Sabtu, 19 Juli 2014

inikah yang kita cari saat mendaki?

Tulisan ini akan sedikit panjang tetapi ente akan mengerti hanya jika ente membacanya dari awal :D 
Mendaki itu kurang lebih sama seperti selfie, sedang trend terutama bagi khalayak muda di bumi ibu pertiwi indonesia raya ini. ane agak kurang mengerti apakah ini ada pengaruh dari boomingnya film indonesia tentang pendakian ke gunung semeru. tapi animo anak muda untuk mendaki jelas berbeda setelah film tersebut rilis, anak-anak muda yang sebelumnya hanya mengenal mall sekarang sangat bersemangat sekali saat membicarakan tentang pendakian dan segala tetek bengeknya. itu tidak masalah hak kita semua kok hanya saja perlu diperhatikan bahwa mendaki gunung itu bukan hanya tentang fun dan senang-senang saja, safety lah yang pertama dan pulang kerumah lagi dengan kondisi utuh lah hal yang utama.
Cukup miriskan ketika kita mendengar berita-berita tentang orang yang tersesat, meninggal bahkan hilang tak ada rimbanya di gunung. Itu semua bisa jadi bukan hanya karena takdir, bisa jadi karena keteledoran kita sendiri jangan terus-terusan menyalahkan takdir apalagi jika kita yang belum mengerti makna dibalik pendakian yang kita lakukan tersebut, dengan kata lain kita mendaki hanya untuk ikut-ikutan.
Coba tanya saja kepada diri kita masing-masing? apakah tujuan kita mendaki? mengapa kita mendaki? cukup jawab dalam hati dan pikiran kita masing-masing, tapi tujuan itu seyogyanya bukan untuk sekedar "pamer" bukan? seperti selfie yg sedang trend tadi.
Untuk pendaki yang sudah lama mendaki atau boleh kita sebut sebagai pendaki senior, sebelum booming "film tersebut", saya tau ente pasti mengerti maksud saya dengan film tersebut, coba kita bayangkan perbedaan saat sebelum dan sesudah booming film itu. sangat kentara sekali bukan?
tapi saya tidak mau serta merta menyalahkan pendaki "film" dalam hal ini, gunung itu milik alam jadi semua punya hak untuk mengunjunginya terlebih lagi untuk menjaga dan melestarikannya.
ente-ente yang merasa pendaki senior juga terkadang memberikan contoh yang buruk, salah satunya adalah perlengkapan yang dibawa. Bukan hal yang asing lagi jika ente yang merasa senior hanya membawa barang seperlunya dan terkesan menggampangkan sebuah pendakian.  padahal yang dihadapi itu alam, bayangkan seberapa kuatnya dia!

Teringat tulisan salah seorang teman ane cewek yg sangat senang berkegiatan outdoor ketika update satatus di bbm, tulisannya kurang lebih : pendaki dan dinamika sosialnya  semakin menjadi-jadi saat bertemu sesama pendaki pertanyaan yg akan muncul seperti; sudah naik berapa gunung, sudah berapa kali, berapa tinggi gunungnya?dan lain sebagainya.....hei?
Apakah makna dari pendakian yang kita lakukan hanya itu saja? jika itu benar sayang sekali karena menurut ane ente tidak layak di sebut senior malah lebih ke tukang pamer.
Ingat sebuah pepatah lama "padi semakin berisi, maka semakin merunduk" seharusnya pendaki juga seperti itu, emang cukup susah untuk membedakan antara "pamer dan share". karena share seharusnya menjadi kewajiban pendaki tetapi daripada kita saling tunjuk satu sama lain, mari kembalikan lagi ke diri kita masing-masing.

(sumber gambar dari photo2 pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar