Pernahkah saudara-saudara sekalian menonton film
valkyrie? Atau malah sudah menontonnya
berulang-ulang ? film yang disutradarai oleh bryan singer ini, konon menceritakan
kisah nyata tentang percobaan pembunuhan dan kudeta kekuasaan yang kesekian
kali terhadap pemimpin partai NAZI yang juga pemimpin jerman “Furher” Adolf
Hitler. Kudeta ini menggunakan nama operasi valkyrie yang draftnya ditandatangani langsung oleh Hitler.
![]() |
| menyiagakan pasukan |
![]() |
| Operasi penangkapan tangan kanan Hitler yang "hampir" berhasil |
Cukup menarik karena kudeta ini justru dilakukan
beberapa perwira “hebat” dari dalam tubuh militer NAZI sendiri. Walaupun sempat
jumawa dengan keyakinan membuncah selama beberapa jam, karena berhasil merebut
beberapa district, tetapi sayang sebelum
target puncak yaitu menguasai berlin tercapai, kudeta tersebut harus gagal
karena Hitler ternyata belum mati dalam percobaan pembunuhan dengan bom di
wolf’s lair (sebuah bunker perlindungan tentara). dan kegagalan kudeta ini didukung
pula oleh sabotase komunikasi yang merugikan peng-kudeta hingga akhirnya mereka
semua dieksekusi.
![]() |
| Otak di balik konsep kudeta terhadap Hitler |
![]() |
| Perwira yang memilih bunuh diri daripada dieksekusi |
Apakah hubungannya
dengan genosida? Seperti kita ketahui bersama rezim fasis Hitler melegitimasi
genosida terhadap bangsa yahudi di eropa. Walaupun mereka juga melakukan
pembersihan terhadap kaum gipsie, orang cacat fisik, tahanan soviet, homoseksual,
komunis dan orang-orang yang tidak setuju dengan agresi yang dilakukan oleh
NAZI. Dari semua di atas bangsa yahudi lah yang paling banyak menjadi korban. Jika
pada tahun 1933 lebih kurang terdapat 9 juta yahudi di 21 negara eropa maka 12
tahun kemudian yaitu 1945 jumlah tersebut menyusut sekitar 2/3nya.
| ![]() | ||||||||||||||
| korban holocaust |
Walaupun, jumlah korban
pembantaian tentara NAZI berlimpah. Namun, Genosida yang dilakukan tidak berjalan
mulus begitu saja. Tercatat terjadi beberapa perlawanan dari mereka yang
diburu, terhadap tentara Hitler yang akan melakukan “pembersihan”. Bahkan kaum yahudi
eropa yang diburu membentuk koloni di hutan-hutan yang mana mereka
mengorganisasi dan melengkapi diri dengan senjata api. Ini dilakukan untuk
setidaknya memberikan perlawanan terhadap para tentara “pembersih” NAZI yang
juga aktif memburu mereka sampai ke dalam hutan.
![]() |
| mereka yang dibantai (PKI atau yang di-PKI kan) |
Berselang 2 dekade
kemudian sekitar tahun 1965-1966 terjadi juga “pembersihan” terhadap rakyat indonesia
yang dilakukan oleh tentara dengan “meminjam” tangan rakyat terhadap
orang-orang PKI dan yang “di-PKI-kan”. Menteri negara Oei tjoe tat yang waktu
itu ditunjuk untuk bergabung dalam FFC (fact finding comission), melaporkan
kepada bung karno selaku panglima besar
KOTI (Komando Operasi Tertinggi) bahwa korban jiwa dari aksi pembantaian ini
adalah 500.000 atau 600.000 orang. 5 sampai 6 kali lipat dari angka yang
dilaporkan FFC dalam rapat plenonya yaitu sebanyak 80.000 korban jiwa.
![]() |
| mereka yang dibantai (PKI atau yang di-PKI kan) |
Mengapa pak Oei bisa
melaporkan angka yang berbeda seperti itu kepada bung Karno? Pertama; dikarenakan
itu merupakan permintaan langsung dari bung Karno sendiri kepada pak Oei untuk
mendapatkan data yang “benar”, kedua; para anggota FFC memiliki time schedule
yang sudah diatur sangat detail (padat) sehingga mereka takkan mungkin pergi ke
tempat “pembantaian”
lain yang tidak terdapat pada schedule. Apalagi setiap anggota FFC dilarang berpergian sendirian karena alasan keamanan. Dari tulisan pak Oei dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada yang “disembunyikan”. Maka dari itu pak Oei harus bisa menyelundupkan dirinya agar dapat melakukan pengecekan jumlah korban sebenarnya di luar dari yang didapatkan FFC.
lain yang tidak terdapat pada schedule. Apalagi setiap anggota FFC dilarang berpergian sendirian karena alasan keamanan. Dari tulisan pak Oei dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada yang “disembunyikan”. Maka dari itu pak Oei harus bisa menyelundupkan dirinya agar dapat melakukan pengecekan jumlah korban sebenarnya di luar dari yang didapatkan FFC.
Angka dari pak Oei dan
FFC adalah sejumlah “itu”. Sedangkan, kolonel Sarwo edhie selaku “pelaksana” di
lapangan pernah mengklaim jumlah korban adalah 3 juta jiwa dan hal ini tak
pernah diklarifikasi oleh sang kolonel hingga akhir hayatnya. Angka yang
fantastik!
Apakah yang menjadi
penyebab dari angka tersebut tadi terwujud? Menurut hemat saya angka tersebut
terwujud karena tidak ada “perlawanan” berarti dari pihak tertuduh yaitu PKI
dan mereka yang “di-PKI-kan”. Tidak seperti koloni yahudi yang melakukan perlawanan
hingga ke dalam hutan terhadap para pembersihnya. Atau mungkin itu juga
dikarenakan demoralisasi dari para pendukung PKI yang mana waktu itu telah
ditinggal mati oleh pemimpinnya D.N. Aidit. dan mereka yang tanpa senjata harus melawan tentara dengan
perlengkapan siap tempur?
Teringat aku akan
sebuah diskusi dan bedah buku “Sarwo Edhi dan tragedi 1965” di sebuah cafe di
yogyakarta yang juga menjual buku pada november 2015. Salah satu narasumber
pada diskusi tersebut adalah roy murtadho. Ia memaparkan jika pada waktu itu
tidak ada provokasi dari pihak tentara yang kemudian menggunakan tangan rakyat
untuk membunuh sesama rakyat mungkin tragedi ini takkan terjadi?
Tapi apakah kita juga
harus mengkambinghitamkan tentara saja sebagai dalang? Bisa kita jawab iya,
bisa juga tidak. Tentara bisa saja
merupakan pelaku dan juga korban pada saat bersamaan. Setidaknya kita bisa
perkirakan bahwa kita semua adalah korban dari sekelompok orang yang mengambil
keuntungan dari aksi dan reaksi 1965.
Bagaimana pendapat
anda?
![]() |
| bapak Orba |
(NB : karena keterbatasan referensi beberapa hal yang
diketahui pembaca tetapi tidak tertulis. Bisa komen di sini)
Sumber :
Pour Julius : G30S
Fakta atau Rekayasa. Kata Hasta Pustaka, Jakarta, 201












Tidak ada komentar:
Posting Komentar