Selasa, 16 Agustus 2016

Takhayul kemerdekaan

Takhayul kemerdekaan?...
 

Pertama kali terbaca kalimat itu olehku pada status seorang kawan bernama Yasir Dayak. Seorang pemuda yang (setahu saya) sekarang sedang mondar mandir di jawa tengah terutama daerah pegunungan kendeng. 
Dan bersama petani kendeng berjuang melawan rakusnya PT. Semen indonesia, yang melalui amdal abal-abalnya berusaha untuk merampas tanah petani. Yasir, pemuda kalimantan berdarah dayak dan juga mahasiswa di jogja ini, menyebut dirinya sebagai Neo-GLI, bukan Neo-PKI apalagi Neo-LIB. 
 
Jika dibedah menggunakan pisau analisis (meminjam istilah para pemikir), maka aku cukup setuju dengan kalimat takhayul kemerdekaan tersebut.  
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa di seluruh indonesia yang paling merasakan nikmatnya kemerdekaan adalah pulau jawa. Hal ini terutama jika kemerdekaan kita lihat dari segi sarana dan prasarana.
 
Tetapi, terlalu sempit cara berpikir kita, apabila kemerdekaan hanya menggunakan tolok ukur pada sarana dan prasarana semata.
Kemerdekaan manusia indonesia lah yang paling penting. Merdeka untuk mendapatkan hak-hak dasarnya. Hak-hak dasar, yang oleh negara melalui penguasanya selalu dikebiri selama ini. 
 
Apa kau pernah tahu bahwa petani-petani tanahnya dirampas? Peraturan pemerintah secara langsung maupun tidak, melarang para petani berladang. Macam-macam cara pelarangan itu, misalnya; menuduh petani sebagai pembakar hutan. Ku katakan padamu : petani tak membakar hutan, mereka tahu batasan saat membakar dan ini adalah kearifan lokal yg sudah ada bahkan sebelum negara ada. 
Dan lucunya setelah pembatasan-pembatasan terhadap petani, negara kita masih bangga dengan gelar negara agraris. 

 
Buruh-buruh apa kabar? Setelah tanahnya dirampas mereka mau tak mau bekerja pada perusahaan. Tenaga mereka diperas, upah murah, jam kerja yang lama bahkan tak ada jaminan bagi mereka yang terikat kontrak. Itu semua demi kepentingan kaum borjuis kapitalis, para investor bermodal besar itu. . Dunia Pendidikan? Sama saja, masih merasakan takhayul kemderdekaan ini. 
 
Sekolah-sekolah di kampung bobrok tak terawat, guru-guru yang tak ada di jam-jam belajar siswa. Pendidikan di perkotaan juga tak jauh beda. Leliberalisasi pendidikan menjadikan ruang pendidikan 
sangat mahal, tak tersentuh rakyat miskin. Padahal pada tiap-tiap ayat UUD 45 pasal 31 tertulis jelas : 1.Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. 2.Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (masih ada 3 ayat lagi, silahkan tnya google). 

 
Hari ini 17 agustus lagi. 17 agustus yang ke-71. 3 tahun yang lalu, 17 agustus ke-68 di gunung slamet, aku dengan bangga memegang bendera merah putih dan mengucap merdeka!.
Itu 3 tahun yang lalu. Saat mataku masih tertutup oleh nikmat yang dipertontonkan media. Apa hari ini aku tidak bangga dengan memegang bendera merah putih? Tidak. Aku masih bangga dan terus bangga dengan memegang bendera merah putih. Yang melunturkan kebanggaanku adalah pemerintah yang masih memberikan takhayul kemerdekaan bagi rakyat indonesia. Pemerintah yang lebih pro kepada investor dari pada rakyatnya. Pemerintah yang menelanjangi hak-hak warga negaranya demi kepentingan borjuis kapitalis



Tidak ada komentar:

Posting Komentar