Tertegun aku saat kau
sodorkan sapu tangan jingga itu padaku. Air mata ini kerontang telah beludak
kemarin lalu. Takkan pernah lagi kau temukan satu bulir tetespun kan mengalir.
Pun pabila nanti kau kedapatan melihatnya itu hanyalah ujud ungkapan kenestapaan.
Seutas lara yang telah menjadi bilur benci bak jelaga pekat, menyepi dalam
remuk redamnya yang paling dalam.
Sapu tangan jingga itu ku
raih. Dengan kelembutannya yang menenangkan ku seka pipiku. Odor sapu tangan
ini begitu melesat merasuk jiwa, aroma keindahan yang tak pernah ku hirup
sekian lama. Lesaplah ia ke dalam jiwaku, satu aroma yang membenamkan dirinya
dalam memori.
Kasihku, kau tak pernah
tahu bahwa hati ini begitu gulana. Gulana ketika kau dan langkah kakimu,
memilih menjauh. Kaulah pemegang kunci hati ini adinda. Kenapa pula kau mencampakkannya
ke ruang kesedihan yang tak terperikan. Jejak langkah untaian sejuta makna, asa
akhir pelaminan indah yang telah kita rajut sebagai impian bersama, pupus. Pupus
sudah semuanya!
Kenapa. Kenapa kau
melangkah pergi adinda? Mendereskan luka di hati yang ringkih? Dikau lupa pada
janji suci yang ku ucap di bawah bayang purnama waktu itu? Atau memorimu
cenderung memilih mengingat kabut pekat tebal yang sekonyong-konyong datang
menyajikan temaram, mengelabui pandang mata kita berdua akan satu keindahan
yang hakiki.
Tak dinyana semua
berakhir bak tempo sehari lalu. Mengharap jawab padamu aku gugu, aku kehilangan
nyali. Geru dalam hati. Hanya itu pekik nyaring, bahana yang menembus gema-gema
sunyi tak terdengar
Tapi, kasihku. apa kau
pernah tau? Telah ku ukir aksara sebanyak bintang di angkasa, seluas laut di
samudera, melimpah ruah. Itu semua,...itu semua agar memori tentangmu tak
lekang. Abjad yang berbisik padaku tentang kita, takkan pernah renta dimakan
usia. Meski keriput tak berhenti menghiasi dekik ayu di wajahmu. Aksara elegi
perpisahan ini adalah cara bahwa sekalipun kau telah tiada di sisi, sekalipun
kau telah memasygulkan htaiku. Akan terus mengalir kisah yang tetap ku baca.
Tentangmu tentang kita yang beriringan menuju ke keabadian.
Inilah penghujung tulisan
elegi dariku. Akan ku tutup ia rapat-rapat. Akan ku buka pada waktunya, sebagai
pengingat bahwa pilu pernah begitu menyayat. Luka yang telah menyembuhkan
dirinya
Araberingin, Agustus
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar