Kamis, 11 Agustus 2016

Cepern 2 : Aksara Perpisahan



Tertegun aku saat kau sodorkan sapu tangan jingga itu padaku. Air mata ini kerontang telah beludak kemarin lalu. Takkan pernah lagi kau temukan satu bulir tetespun kan mengalir. Pun pabila nanti kau kedapatan melihatnya itu hanyalah ujud ungkapan kenestapaan. Seutas lara yang telah menjadi bilur benci bak jelaga pekat, menyepi dalam remuk redamnya yang paling dalam.

Sapu tangan jingga itu ku raih. Dengan kelembutannya yang menenangkan ku seka pipiku. Odor sapu tangan ini begitu melesat merasuk jiwa, aroma keindahan yang tak pernah ku hirup sekian lama. Lesaplah ia ke dalam jiwaku, satu aroma yang membenamkan dirinya dalam memori. 

Kasihku, kau tak pernah tahu bahwa hati ini begitu gulana. Gulana ketika kau dan langkah kakimu, memilih menjauh. Kaulah pemegang kunci hati ini adinda. Kenapa pula kau mencampakkannya ke ruang kesedihan yang tak terperikan. Jejak langkah untaian sejuta makna, asa akhir pelaminan indah yang telah kita rajut sebagai impian bersama, pupus. Pupus sudah semuanya! 

Kenapa. Kenapa kau melangkah pergi adinda? Mendereskan luka di hati yang ringkih? Dikau lupa pada janji suci yang ku ucap di bawah bayang purnama waktu itu? Atau memorimu cenderung memilih mengingat kabut pekat tebal yang sekonyong-konyong datang menyajikan temaram, mengelabui pandang mata kita berdua akan satu keindahan yang hakiki.

Tak dinyana semua berakhir bak tempo sehari lalu. Mengharap jawab padamu aku gugu, aku kehilangan nyali. Geru dalam hati. Hanya itu pekik nyaring, bahana yang menembus gema-gema sunyi tak terdengar

Tapi, kasihku. apa kau pernah tau? Telah ku ukir aksara sebanyak bintang di angkasa, seluas laut di samudera, melimpah ruah. Itu semua,...itu semua agar memori tentangmu tak lekang. Abjad yang berbisik padaku tentang kita, takkan pernah renta dimakan usia. Meski keriput tak berhenti menghiasi dekik ayu di wajahmu. Aksara elegi perpisahan ini adalah cara bahwa sekalipun kau telah tiada di sisi, sekalipun kau telah memasygulkan htaiku. Akan terus mengalir kisah yang tetap ku baca. Tentangmu tentang kita yang beriringan menuju ke keabadian.

Inilah penghujung tulisan elegi dariku. Akan ku tutup ia rapat-rapat. Akan ku buka pada waktunya, sebagai pengingat bahwa pilu pernah begitu menyayat. Luka yang telah menyembuhkan dirinya

Araberingin, Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar