Coba mari kita sebutkan
nama anak-anak indonesia saat ini ; Queennaya, Aldebaran, Denzel, Xisco, Steve,
masih banyak lagi dan generasi sebelum kita belum ada yang menggunakan nama
ini. Nama yang tersemat pada seorang anak adalah sangat tergantung dari
orangtua masing-masing, di kota-kota besar sudah jamak jika nama yang disandang
seorang anak sangat bagus dan sudah tentu terdengar unik.

Apakah ada yang salah
dengan penggunaan nama-nama tersebut? Tentu tidak. Karena bagaimanapun juga
adalah hak orang tua untuk memberikan nama kepada anaknya, layaknya nama-nama
yang lain pasti secara implisit selalu terselip doa, doa yang mengiringi anak
sepanjang usia sang anak.
Zaman memang telah
berubah, berjalan cepat meninggalkan yang gagap dan lambat. Sejurus dengan
langkah yang tegak nama-nama jadul, kuno, norak seperti Subagyo, Umbu, Dadang,
Atep, Parman, Sri, Suginem, Ayu, Nanik, Butet dan lainnya tertinggal dan
ditinggalkan.

Selamat tinggal
kampungan, kuno! kau memang layak masuk keranjang sampah kami memasuki era kekinian dan kau dengan nama yang tersemat
menunjukkan kau bukan darai zaman ini. Kau adalah generasi lalu, generasi yang
harus dilupakan.
Dan hari ini kita berjalan
menapaki sisa-sisa jejak budaya adiluhung, jejak budaya yang telah menembus abad dan seolah
kini layak ditinggalkan karena sepanjang waktu propaganda kampungan, norak, dan
tidak dinamis selalu dikumandangkan
dalam sendi-sendi kehidupan.
Sumber gambar google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar