Tragis! Artikel pertama. Siswi 14 tahun meregang nyawa,
setelah diperkosa oleh beberapa pelaku yang usianya masih di bawah umur.
Artikel kedua. Mahasiswa ditemukan tewas di dalam toilet kampusnya, si
pelaku ternyata seorang cleaning service kampus itu sendiri.
Ah...artikel beberapa hari ini sama saja, tak jauh dari pemberitaan
berbau kriminal. Aku perlu santapan baru. Santapan yang membuat otakku
lebih bisa menyalakan pancarannya. Tentu saja berita ini bisa tapi ia
terlalu biasa. (tak...tak...tak...tak...jarum jam berdetak dalam hening)
Kupikir ulang, kuteguk kembali kopiku yang sudah kelihatan ampasnya.
Kugeser...kugeser lagi layar touchscreen hapeku. Ke bawah ke bawah.
Sekelebat timbul tanya dalam khayal. Kenapa dan ada apa dengan
pemberitaan media sekarang ini? Buka ke situs ini. Berita kriminal. Ke
situs sana. Berita kriminal. Apa saja situs yang kubuka, selalu ada
berita kriminal. Ah! Aku tak paham. Kulepas hapeku tanda jenuh. Tanpa
sadar kutangkupkan tanganku menopang dagu. Hmm...lebih baik kubasuh
mukaku. Air itupun membasahi sudut mukaku yang berminyak. Dingin. Jam
yang berdetak menunjukkan jam 08.10 Pagi yang sudah berangkat menuju
siang.
Kuambil sepatu. Tas sudah menyelempang di badan. Bersama motor
tua butut kutinggalkan halaman kos yang sudah bertahun kutempati.
Kukendarai motorku tak tentu arah, pemberitaan kriminal itu masih saja
membias, berlalu lalang dalam kepala. Tanggal berapakah hari ini? 1 mei?
Bergegas kupinggirkan motorku. Kulihat kalender di hape. Ya betul, hari
ini tanggal 1 mei. Bukankah biasanya akan ada demo buruh? Apalagi ini
di kota besar. Beberapa pabrik berdiri di kota ini. Pasti ada buruh di
dalam pabrik. Pasti akan ada demonstrasi. Tapi di mana? Aku ingin
melihat aksi massa
Brumm...kunyalakan lagi si butut. Bersama-sama kami
mencoba mencari keramaian di jalan-jalan protokol kota ini. 10menit
berlalu dari arah berlawanan riuh suara motor berkonvoi. Apa gerangan?
Di ujung sana sekumpulan orang dengan kaos berwarna sama membawa bendera
bertuliskan buruh. Pucuk dicinta ulampun tiba. Sebaiknya aku mengikuti
konvoi riuh itu. Kira-kira 50 meter jarakku membuntuti konvoi. Terasa
sekali hawa semangat mereka, para buruh ini. Setiap ada rombongan meski
berbeda warna kaos, massa konvoi riuh berhenti. Ternyata untuk mengajak
bergabung agar terbentuk satu massa besar. Tak ada penolakan.
Solidaritas! Tetiba tergumam kata ini dari bibirku. Semakin lama konvoi
semakin besar di setiap jalan yang dilalui konvoi, terlihat aparat
berseragam dengan handy talkie di tangan. Polisi...polisi...ternyata
mereka telah bersiaga di sepanjang rute yang dilalui. Aku panik!
Bagaimana selanjutnya ini? Aku takut terjadi bentrokan. Tetap kuikuti
kah? Atau? Aku bimbang. Rasa-rasanya aku tak boleh berhenti di sini
saja.
Aksi massa seperti ini jarang sekali bisa ditemui. Kuputuskan
untuk mengikuti dari jauh, agar aku tak dianggap bagian dari massa. Dan
mungkin aku aman apabila terjadi bentrokan. Sampai di lapangan besar
massapun mengurai, dalam hitungan kuperkirakan terdapat ribuan massa dan
dengan atributnya mereka sudah sangat siap untuk bersuara. Kulayangkan
pandang ke sekeliling selaon massa buruh. Polisi juga sudah siap siaga
dengan helm di kepala dan tameng di tangan. Mobil penyemprot air,
entahlah apa nama mobil itu, yang kutahu saat air dari dalamnya
disemprotkan ke badanmu maka kau bisa tumbang seketika. Gas air mata.
Mana polisi yang memegang senjata yang berisikan gas air mata. Bukankah
seharusnya mereka juga ada di sini? Ternyata orasi sudah dimulai ketika
aku sibuk mencari di mana polisi gas air mata. Teriakan massa membakar
rasaku. Aku terbawa suasana. Ingin rasanya aku ikut berteriak bersama
mereka. Ikut menyuarakan tuntutan mereka, walaupun aku tak begitu
mengerti. Mereka menuntut penghapusan PP no 78 tentang upah. Apa isinya?
Nantilah aku pasti cari tahu. 3 jam orasi berlangsung dalam cuaca panas
membakar kulit. Semua buruh berteriak serentak, mendukung apa yang
disampaikan orator. Polisi masih berjaga. Para jurnalispun tak
ketinggalan berlalu lalang di antara massa. 4 jam berlalu, perwakilan
massa dipertemukan dengan pemangku kepentingan, pembuat kebijakan. Tak
ada kericuhan hari ini. Syukurlah! Aku tak harus menjadi saksi hidup
bentrokan antara polisi dan buruh.
Kembali kuarahkan motorku menuju
jalan pulang. Menyelip di antara massa yang mulai membubarkan diri.
Sampai di kos langsung kubaringkan badanku di kasur kapuk yang sudah
mengeras. Tertidur. Hari sudah menjelang malam kala aku terbangun.
Kubuka lagi hape tochscreen itu. Sekali lagi aku disuguhkan pemberitaan
kriminal dari setiap halaman situs yang kubuka. Mana pemberitaan tentang
tuntutan buruh hari ini? Tuntutan kesejahteraan mereka? Tuntutan
menolak upah yang tidak adil. Mana? Cari kucari lagi, akhirnya ada juga
artikel tentang demonstrasi buruh hari ini. Tapi kenapa cuma sedikit
situs yang mengartikelkannya? Bukankah massa yang mengikuti demo hari
ini tidak sedikit? Bukankah demo hari ini bisa terdengar hingga ke
pelosok negeri? Buruh adalah rakyat kecil bukan? Bukankah mereka bekerja
tetapi sering mendapatkan perlakuan tak adil? Tapi, kenapa sedikit
situs berita yang menarasikan apa yang mereka perjuangkan?
Kulayangkan
pandang ke sudut kamar. Aku sedikit paham. Media tak mau adil. Mereka
hanya ingin pemberitaan yang mendatangkan rente.
Berita kriminal
sepertinya lebih menjanjikan pundi-pundi uang dari pada aksi damai buruh
hari ini. Ini hanya praduga, mungkinkah pemberitaannya akan berbeda
apabila demo hari ini berakhir ricuh hingga menelan korban jiwa?
NobertPeace/AraBeringin, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar