Senin, 18 Juli 2016

Cerpen 1 ; Pengingkaran


Tragis! Artikel pertama. Siswi 14 tahun meregang nyawa, setelah diperkosa oleh beberapa pelaku yang usianya masih di bawah umur. Artikel kedua. Mahasiswa ditemukan tewas di dalam toilet kampusnya, si pelaku ternyata seorang cleaning service kampus itu sendiri. 
 
Ah...artikel beberapa hari ini sama saja, tak jauh dari pemberitaan berbau kriminal. Aku perlu santapan baru. Santapan yang membuat otakku lebih bisa menyalakan pancarannya. Tentu saja berita ini bisa tapi ia terlalu biasa. (tak...tak...tak...tak...jarum jam berdetak dalam hening) Kupikir ulang, kuteguk kembali kopiku yang sudah kelihatan ampasnya. 
Kugeser...kugeser lagi layar touchscreen hapeku. Ke bawah ke bawah. Sekelebat timbul tanya dalam khayal. Kenapa dan ada apa dengan pemberitaan media sekarang ini? Buka ke situs ini. Berita kriminal. Ke situs sana. Berita kriminal. Apa saja situs yang kubuka, selalu ada berita kriminal. Ah! Aku tak paham. Kulepas hapeku tanda jenuh. Tanpa sadar kutangkupkan tanganku menopang dagu. Hmm...lebih baik kubasuh mukaku. Air itupun membasahi sudut mukaku yang berminyak. Dingin. Jam yang berdetak menunjukkan jam 08.10 Pagi yang sudah berangkat menuju siang. 
 
Kuambil sepatu. Tas sudah menyelempang di badan. Bersama motor tua butut kutinggalkan halaman kos yang sudah bertahun kutempati. Kukendarai motorku tak tentu arah, pemberitaan kriminal itu masih saja membias, berlalu lalang dalam kepala. Tanggal berapakah hari ini? 1 mei? Bergegas kupinggirkan motorku. Kulihat kalender di hape. Ya betul, hari ini tanggal 1 mei. Bukankah biasanya akan ada demo buruh? Apalagi ini di kota besar. Beberapa pabrik berdiri di kota ini. Pasti ada buruh di dalam pabrik. Pasti akan ada demonstrasi. Tapi di mana? Aku ingin melihat aksi massa 
 
Brumm...kunyalakan lagi si butut. Bersama-sama kami mencoba mencari keramaian di jalan-jalan protokol kota ini. 10menit berlalu dari arah berlawanan riuh suara motor berkonvoi. Apa gerangan? Di ujung sana sekumpulan orang dengan kaos berwarna sama membawa bendera bertuliskan buruh. Pucuk dicinta ulampun tiba. Sebaiknya aku mengikuti konvoi riuh itu. Kira-kira 50 meter jarakku membuntuti konvoi. Terasa sekali hawa semangat mereka, para buruh ini. Setiap ada rombongan meski berbeda warna kaos, massa konvoi riuh berhenti. Ternyata untuk mengajak bergabung agar terbentuk satu massa besar. Tak ada penolakan. Solidaritas! Tetiba tergumam kata ini dari bibirku. Semakin lama konvoi semakin besar di setiap jalan yang dilalui konvoi, terlihat aparat berseragam dengan handy talkie di tangan. Polisi...polisi...ternyata mereka telah bersiaga di sepanjang rute yang dilalui. Aku panik! Bagaimana selanjutnya ini? Aku takut terjadi bentrokan. Tetap kuikuti kah? Atau? Aku bimbang. Rasa-rasanya aku tak boleh berhenti di sini saja. 
 
Aksi massa seperti ini jarang sekali bisa ditemui. Kuputuskan untuk mengikuti dari jauh, agar aku tak dianggap bagian dari massa. Dan mungkin aku aman apabila terjadi bentrokan. Sampai di lapangan besar massapun mengurai, dalam hitungan kuperkirakan terdapat ribuan massa dan dengan atributnya mereka sudah sangat siap untuk bersuara. Kulayangkan pandang ke sekeliling selaon massa buruh. Polisi juga sudah siap siaga dengan helm di kepala dan tameng di tangan. Mobil penyemprot air, entahlah apa nama mobil itu, yang kutahu saat air dari dalamnya disemprotkan ke badanmu maka kau bisa tumbang seketika. Gas air mata. Mana polisi yang memegang senjata yang berisikan gas air mata. Bukankah seharusnya mereka juga ada di sini? Ternyata orasi sudah dimulai ketika aku sibuk mencari di mana polisi gas air mata. Teriakan massa membakar rasaku. Aku terbawa suasana. Ingin rasanya aku ikut berteriak bersama mereka. Ikut menyuarakan tuntutan mereka, walaupun aku tak begitu mengerti. Mereka menuntut penghapusan PP no 78 tentang upah. Apa isinya? Nantilah aku pasti cari tahu. 3 jam orasi berlangsung dalam cuaca panas membakar kulit. Semua buruh berteriak serentak, mendukung apa yang disampaikan orator. Polisi masih berjaga. Para jurnalispun tak ketinggalan berlalu lalang di antara massa. 4 jam berlalu, perwakilan massa dipertemukan dengan pemangku kepentingan, pembuat kebijakan. Tak ada kericuhan hari ini. Syukurlah! Aku tak harus menjadi saksi hidup bentrokan antara polisi dan buruh. 
 
Kembali kuarahkan motorku menuju jalan pulang. Menyelip di antara massa yang mulai membubarkan diri. Sampai di kos langsung kubaringkan badanku di kasur kapuk yang sudah mengeras. Tertidur. Hari sudah menjelang malam kala aku terbangun. 
Kubuka lagi hape tochscreen itu. Sekali lagi aku disuguhkan pemberitaan kriminal dari setiap halaman situs yang kubuka. Mana pemberitaan tentang tuntutan buruh hari ini? Tuntutan kesejahteraan mereka? Tuntutan menolak upah yang tidak adil. Mana? Cari kucari lagi, akhirnya ada juga artikel tentang demonstrasi buruh hari ini. Tapi kenapa cuma sedikit situs yang mengartikelkannya? Bukankah massa yang mengikuti demo hari ini tidak sedikit? Bukankah demo hari ini bisa terdengar hingga ke pelosok negeri? Buruh adalah rakyat kecil bukan? Bukankah mereka bekerja tetapi sering mendapatkan perlakuan tak adil? Tapi, kenapa sedikit situs berita yang menarasikan apa yang mereka perjuangkan? 
 
Kulayangkan pandang ke sudut kamar. Aku sedikit paham. Media tak mau adil. Mereka hanya ingin pemberitaan yang mendatangkan rente. 
Berita kriminal sepertinya lebih menjanjikan pundi-pundi uang dari pada aksi damai buruh hari ini. Ini hanya praduga, mungkinkah pemberitaannya akan berbeda apabila demo hari ini berakhir ricuh hingga menelan korban jiwa? 

NobertPeace/AraBeringin, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar