Saya menulis ini karena
artikel yang dibagikan oleh seorang teman, yang kebetulan artikel ini muncul
ketika aku sedang menekan touchscreen turun naik tak jelas.
Semakin kesini, secara
sadar atau tidak nama-nama generasi muda indonesia telah banyak berubah menjadi
kebarat-baratan atau kearab-araban. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh agama
yang dipercayai oleh keluarga tersebut. Sebelum kawan-kawan menghujat,
kukatakan saja bahwa tulisan ini bukan tentang SARA.
Coba mari kita sebutkan
nama anak-anak indonesia saat ini ; Queennaya, Aldebaran, Denzel, Xisco, Steve,
masih banyak lagi dan generasi sebelum kita belum ada yang menggunakan nama
ini. Biasanya pemberian nama tergantung dari orangtua masing-masing terutama di
kota-kota besar nama anak mereka akan dibuat begitu “bagus” dan terdengar unik.
Apakah ada yang salah
dengan nama tersebut? Tidak. Itu adalah hak orang tua untuk memberikan nama
kepada anaknya dan sudah barang tentu diselipkan makna dan doa di setiap nama
yang diberikan. Tapi, justru terlihat miris saat nama-nama seperti Subagyo,
Umbu, Dadang, Atep, Parman, Sri, Suginem, Ayu, Nanik, Butet dan banyak lagi,
sudah mulai ditingggalkan oleh keluarga modern (?) dengan berbagai alasan
beruntunglah kalian yang bermarga atau fam, karena bagaimanapun juga harus
tetap terselip nama marga atau fam tersebut.
Perlu kita ingat bahwa
pemberian nama akan saling memiliki keterikatan dengan budaya yang dianut oleh
masyarakat. Bangsa terdiri dari banyak suku yang memberikan nama biasanya
sesuai dengan sukunya misalnya Sukinem dan Paijo untuk suku jawa, Umbu dan Ina
pada suku di NTT, Ae dan Oton untuk suku Dayak, Ucok dan Butet pada suku batak
dan masih banyak lagi.
Jelas dengan mendengar
nama tersebut disebu maka kita sudah paham bahwa nama tersebut memiliki kaitan
erat dengan suku dan budaya tertentu. Nah, bayangkan saja beberapa tahun
kedepan saat nama Xisco atau Quinnaya menggantikan nama tersebut, apakah masih
ada identitas budaya yang tersisa? Walaupun nama buka satu-satunya petunjuk
identitas budaya, bukankah lebih baik untuk tetap menyelipkan nama yang
mewakili suku dan budaya asalmu walaupun dalam porsi kecil.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar