Rabu, 13 Juli 2016

Nama atau penghapusan ingatan



Saya menulis ini karena artikel yang dibagikan oleh seorang teman, yang kebetulan artikel ini muncul ketika aku sedang menekan touchscreen turun naik tak jelas.

Semakin kesini, secara sadar atau tidak nama-nama generasi muda indonesia telah banyak berubah menjadi kebarat-baratan atau kearab-araban. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh agama yang dipercayai oleh keluarga tersebut. Sebelum kawan-kawan menghujat, kukatakan saja bahwa tulisan ini bukan tentang SARA.


Coba mari kita sebutkan nama anak-anak indonesia saat ini ;  Queennaya, Aldebaran, Denzel, Xisco, Steve, masih banyak lagi dan generasi sebelum kita belum ada yang menggunakan nama ini. Biasanya pemberian nama tergantung dari orangtua masing-masing terutama di kota-kota besar nama anak mereka akan dibuat begitu “bagus” dan terdengar unik.

Apakah ada yang salah dengan nama tersebut? Tidak. Itu adalah hak orang tua untuk memberikan nama kepada anaknya dan sudah barang tentu diselipkan makna dan doa di setiap nama yang diberikan. Tapi, justru terlihat miris saat nama-nama seperti Subagyo, Umbu, Dadang, Atep, Parman, Sri, Suginem, Ayu, Nanik, Butet dan banyak lagi, sudah mulai ditingggalkan oleh keluarga modern (?) dengan berbagai alasan beruntunglah kalian yang bermarga atau fam, karena bagaimanapun juga harus tetap terselip nama marga atau fam tersebut.



Perlu kita ingat bahwa pemberian nama akan saling memiliki keterikatan dengan budaya yang dianut oleh masyarakat. Bangsa terdiri dari banyak suku yang memberikan nama biasanya sesuai dengan sukunya misalnya Sukinem dan Paijo untuk suku jawa, Umbu dan Ina pada suku di NTT, Ae dan Oton untuk suku Dayak, Ucok dan Butet pada suku batak dan masih banyak lagi.

Jelas dengan mendengar nama tersebut disebu maka kita sudah paham bahwa nama tersebut memiliki kaitan erat dengan suku dan budaya tertentu. Nah, bayangkan saja beberapa tahun kedepan saat nama Xisco atau Quinnaya menggantikan nama tersebut, apakah masih ada identitas budaya yang tersisa? Walaupun nama buka satu-satunya petunjuk identitas budaya, bukankah lebih baik untuk tetap menyelipkan nama yang mewakili suku dan budaya asalmu walaupun dalam porsi kecil. 




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar