Sebuah
video menunjukkan oknum LSM yang main hakim sendiri, telah dibagikan di facebook Sebagaimana
lazimnya orang yang suka membagikan sesuatu di dunia media sosial maka
tergeraklah saya untuk segera membagikan si video agar orang
lain yang berada di lingkaran pertemanan facebook juga dapat menikmatinya.
Sehari berselang begitu akan menonton lagi video ini entah kenapa, ia sudah
raib dari timeline dan memaksa
mencari aternatif lain untuk dapat menontonnya lagi.
Di
youtube.com video tersebut
beredar dengan judul “PAKAI PIN PKI, OKNUM LSM MAIN HAKIM SENDIRI KE ANAK
INGUSAN”.
Apakah
ada yang salah dengan segala macam hal yang berbau komunis di negeri ini?
Beberapa kejadian mungkin bisa kita tarik sebagai sebuah kesimpulan ; pengadilan
rakyat kasus 1965 yang dilaksanakan di belanda yang mana setiap orang Indonesia
yang hadir di sana mendapatkan ancaman saat akan pulang ke Indonesia, festival
belok kiri yang secara sepihak oleh pemilik gedung digagalkan pelaksanaannya
yang teryata ketika diusut ada ancaman dari ormas untuk mebubarkan acara
tersebut, teater ; monolog tan malaka saya rusa berbulu merah diancam akan
dibubarkan sehingga harus berpindah tempat ke LBH, kampuspun tak bisa terhindar
dari terror, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogya yang pada saat itu akan melakukan
pemutaran film senyap mendapat ancaman pembubaran juga, untungnya film tetap
berhasil diputar. Ada kisah heroik tatkala mahasiswa yang sudah mengetahui
adanya ancaman pembubaran sudah bersedia untuk pasang badan pada siapapun
organisasi manapun yang berani dan berusaha membubarkan pemutaran film tersebut
dan yang terakhir seorang pemuda yang kedapatan memakai pin PKI, dicegat di
jalan kemudian ditempeleng berkali-kali oleh oknum LSM dengan mengaku sebaga
anak tentara tak pelak si ABG ini hanya terdiam dalam takutnya di kelilingi
oleh segerombolan orang yang beringas karena punya massa. Kesimpulan yang dapat
kita ambil bersama ialah bahwa 18 tahun setelah era reformasi, tak cukup banyak
yang berubah tentang perlakuan terhadap segala sesuatu yang berbau komunis
bahkan cenderung dikomuniskan.
Indoktrinasi
yang dilakukan bertahun-tahun secara sistematis pada setiap generasi semasa
rezim orba kemudian diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Dan cara ini benar-benar
memiliki kekuatan yang ampuh, manjur sekali untuk melumpuhkan ide-ide kritis.
literasi yang kurang, pun didukung pula oleh sejarah yang hanya dari sumber
itu-itu saja menyebabkan indoktrinasipun semakin kokoh bak tak tersentuh.
Sampai
hari ini komunis masih dipandang tak lebih dari sebuah wabah yang berusaha
menghancurkan negara, melakukan pengkhianatan terhadap negara, tidak beragama,
berkelakuan biadab, ingin mengganti ideologi pancasila menjadi komunis. Dan
untuk menghentikan wabah tersebut secara “bijak” oleh penguasa kala itu diambil
keputusan untuk membinasakan orang-orang PKI dan terafiliasi dengan PKI.
500.000
korban dengan tambahan (++) di belakangnya bahkan baru kemarin hanya dianggap
sebagai angka saja oleh Sintong Pandjaitan.
Padahal angka 500.00 dengan tambahan (++) di belakang seutuhnya manusia dan
mereka punya nama dan juga punya hak untuk hidup.
Pengaruh
“FIKSI SEMPURNA” pengkhianatan
G30S/PKI
aku
teringat beberapa tahun silam di tanah kelahiranku dengan tanpa busana. Bermain
perang-perangan dengan senjata berupa ranting-ranting yang sudah mati di pinggir
sungai. Di sela-sela peperangan bohong-bohongan itu sesekali kami berteriak
lawan belanda, lawan PKI. Dalam masa itu aku juga berbicara dengan teman-teman
sepermainanku bagaimana kejamnya PKI menyilet-nyilet tubuh, mata lidah
orang-orang yang kemudian ditaburi garam di setiap sayatan yang sudah dibuat.
Di
kemudian hari ternyata baru diketahui bahwa film garapan Arifin C Noor ini
adalah film “FIKSI” dengan memiliki pengaruh yang sempurna. Apalagi terus
menerus diputar selama orba Berjaya. Beberapa orang beruntung karena akhirnya
sadar film pengkhianatan G30S/PKI tak lebih dari film action yang lainnya,
tetapi barangkali kita juga tak bisa menepis apabila masih banyak yang percaya
bahwa film ini Based on true story. Dan tentu saja semakin banyak yang mengamini
film ini maka, semakin sukses pula pengaruh rezim orba untuk mempertahankan
kekuasaannya.
Porsi
demokrasi di era kekinian
Pramoedya
Ananta Toer dalam memoar nyanyi sunyi seorang bisu menulis “bukankah saya masih
boleh mempunyai pendapat pribadi tuan?”. Orba yang dibangun di atas darah
ternyata paham betul bagaimana cara untuk memperpanjang umurnya, setidaknya itu
terbukti dengan usia rezim yang mencapai tiga dekade lebih.
Penggunaan
militerisme dalam setiap tatanan masyarakat berhasil membungkam kebebasan
berpendapat. Alih-alih berpendapat para intelektual pun cenderung mengangguk
tanpa protes pada tiap kebijakan yang dikeluarkan rezim. Kalaupun ada satu dua
usianya pun takkan lama.
Sampai
hari ini penggunaan cara-cara militer untuk membatasi gerak demokrasi masih
tetap bisa kita temui di sekitar kita. bahkan masyarakat cenderung menganggap
hal tersebut sabagai sebuah kewajaran yang patut dimaklumi. Demokrasi walaupun
sudah mulai menunjukkan batang hidungnya tetapi masih tidak utuh diperlukan
praksis yang lebih berani agar demokrasi bisa muncul secara sempurna dan tidak
dianggap sebagai hal-hal yang berbau PKI. bukankah kebebasan berpendapat, berani
kritis dan protes terhadap tatanan yang tidak adil tak bisa selalu disangkut
pautkan dengan komunis. Kiri tak berarti komunis bukan?
Menuduh
segala yang kiri sebagai komunis. karena keberanian untuk melakukan hal-hal
yang membuat kekuasaan gerah agar terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia. apakah tuduhan seperti ini tak ubahnya sebuah jaminan bahwa
demokrasi itu masih hanya berada dalam tatanan ide saja?
Pada
akhir video main hakim tadi masih kudengarkan percakapan oknunm penempeleng
yang dengan gagah berucap; “ gak pernah belajar sejarah loe yah?” masih dengan
tangannya mencengkram kerah leher baju si pemuda.
pertanyaan itu justru layak dilemparkan kepada siapa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar