Rabu, 13 Juli 2016

Komunistophobia & Penggerogotan Nilai-Nilai Demokrasi





Sebuah video menunjukkan oknum LSM yang main hakim sendiri, telah dibagikan di facebook Sebagaimana lazimnya orang yang suka membagikan sesuatu di dunia media sosial maka tergeraklah saya untuk segera membagikan si video agar orang lain yang berada di lingkaran pertemanan facebook juga dapat menikmatinya. Sehari berselang begitu akan menonton lagi video ini entah kenapa, ia sudah raib dari timeline dan memaksa mencari aternatif lain untuk dapat menontonnya lagi.

Di youtube.com video tersebut beredar dengan judul “PAKAI PIN PKI, OKNUM LSM MAIN HAKIM SENDIRI KE ANAK INGUSAN”.

Apakah ada yang salah dengan segala macam hal yang berbau komunis di negeri ini? Beberapa kejadian mungkin bisa kita tarik sebagai sebuah kesimpulan ; pengadilan rakyat kasus 1965 yang dilaksanakan di belanda yang mana setiap orang Indonesia yang hadir di sana mendapatkan ancaman saat akan pulang ke Indonesia, festival belok kiri yang secara sepihak oleh pemilik gedung digagalkan pelaksanaannya yang teryata ketika diusut ada ancaman dari ormas untuk mebubarkan acara tersebut, teater ; monolog tan malaka saya rusa berbulu merah diancam akan dibubarkan sehingga harus berpindah tempat ke LBH, kampuspun tak bisa terhindar dari terror, kampus UIN Sunan Kalijaga Yogya yang pada saat itu akan melakukan pemutaran film senyap mendapat ancaman pembubaran juga, untungnya film tetap berhasil diputar. Ada kisah heroik tatkala mahasiswa yang sudah mengetahui adanya ancaman pembubaran sudah bersedia untuk pasang badan pada siapapun organisasi manapun yang berani dan berusaha membubarkan pemutaran film tersebut dan yang terakhir seorang pemuda yang kedapatan memakai pin PKI, dicegat di jalan kemudian ditempeleng berkali-kali oleh oknum LSM dengan mengaku sebaga anak tentara tak pelak si ABG ini hanya terdiam dalam takutnya di kelilingi oleh segerombolan orang yang beringas karena punya massa. Kesimpulan yang dapat kita ambil bersama ialah bahwa 18 tahun setelah era reformasi, tak cukup banyak yang berubah tentang perlakuan terhadap segala sesuatu yang berbau komunis bahkan cenderung dikomuniskan. 

Indoktrinasi yang dilakukan bertahun-tahun secara sistematis pada setiap generasi semasa rezim orba kemudian diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Dan cara ini benar-benar memiliki kekuatan yang ampuh, manjur sekali untuk melumpuhkan ide-ide kritis. literasi yang kurang, pun didukung pula oleh sejarah yang hanya dari sumber itu-itu saja menyebabkan indoktrinasipun semakin kokoh bak tak tersentuh.

Sampai hari ini komunis masih dipandang tak lebih dari sebuah wabah yang berusaha menghancurkan negara, melakukan pengkhianatan terhadap negara, tidak beragama, berkelakuan biadab, ingin mengganti ideologi pancasila menjadi komunis. Dan untuk menghentikan wabah tersebut secara “bijak” oleh penguasa kala itu diambil keputusan untuk membinasakan orang-orang PKI dan terafiliasi dengan PKI.
500.000 korban dengan tambahan (++) di belakangnya bahkan baru kemarin hanya dianggap sebagai angka saja oleh Sintong Pandjaitan. Padahal angka 500.00 dengan tambahan (++) di belakang seutuhnya manusia dan mereka punya nama dan juga punya hak untuk hidup.

Pengaruh “FIKSI SEMPURNA” pengkhianatan G30S/PKI
aku teringat beberapa tahun silam di tanah kelahiranku dengan tanpa busana. Bermain perang-perangan dengan senjata berupa ranting-ranting yang sudah mati di pinggir sungai. Di sela-sela peperangan bohong-bohongan itu sesekali kami berteriak lawan belanda, lawan PKI. Dalam masa itu aku juga berbicara dengan teman-teman sepermainanku bagaimana kejamnya PKI menyilet-nyilet tubuh, mata lidah orang-orang yang kemudian ditaburi garam di setiap sayatan yang sudah dibuat.
Di kemudian hari ternyata baru diketahui bahwa film garapan Arifin C Noor ini adalah film “FIKSI” dengan memiliki pengaruh yang sempurna. Apalagi terus menerus diputar selama orba Berjaya. Beberapa orang beruntung karena akhirnya sadar film pengkhianatan G30S/PKI tak lebih dari film action yang lainnya, tetapi barangkali kita juga tak bisa menepis apabila masih banyak yang percaya bahwa film ini Based on true story.  Dan tentu saja semakin banyak yang mengamini film ini maka, semakin sukses pula pengaruh rezim orba untuk mempertahankan kekuasaannya.

Porsi demokrasi di era kekinian
Pramoedya Ananta Toer dalam memoar nyanyi sunyi seorang bisu menulis “bukankah saya masih boleh mempunyai pendapat pribadi tuan?”. Orba yang dibangun di atas darah ternyata paham betul bagaimana cara untuk memperpanjang umurnya, setidaknya itu terbukti dengan usia rezim yang mencapai tiga dekade lebih.
Penggunaan militerisme dalam setiap tatanan masyarakat berhasil membungkam kebebasan berpendapat. Alih-alih berpendapat para intelektual pun cenderung mengangguk tanpa protes pada tiap kebijakan yang dikeluarkan rezim. Kalaupun ada satu dua usianya pun takkan lama.
Sampai hari ini penggunaan cara-cara militer untuk membatasi gerak demokrasi masih tetap bisa kita temui di sekitar kita. bahkan masyarakat cenderung menganggap hal tersebut sabagai sebuah kewajaran yang patut dimaklumi. Demokrasi walaupun sudah mulai menunjukkan batang hidungnya tetapi masih tidak utuh diperlukan praksis yang lebih berani agar demokrasi bisa muncul secara sempurna dan tidak dianggap sebagai hal-hal yang berbau PKI. bukankah kebebasan berpendapat, berani kritis dan protes terhadap tatanan yang tidak adil tak bisa selalu disangkut pautkan dengan komunis. Kiri tak berarti komunis bukan?
Menuduh segala yang kiri sebagai komunis. karena keberanian untuk melakukan hal-hal yang membuat kekuasaan gerah agar terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. apakah tuduhan seperti ini tak ubahnya sebuah jaminan bahwa demokrasi itu masih hanya berada dalam tatanan ide saja?
Pada akhir video main hakim tadi masih kudengarkan percakapan oknunm penempeleng yang dengan gagah berucap; “ gak pernah belajar sejarah loe yah?” masih dengan tangannya mencengkram kerah leher baju si pemuda.
pertanyaan itu justru layak dilemparkan kepada siapa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar