![]() |
| sunrise |
Sebuah
trend kekinian yang diperkenalkan oleh sebuah tv swasta, My Trip My Adventure
(MTMA) benar-benar booming beberapa tahun terakhir. Alhasil aktivitas yang
selalu diberi judul MTMA ini, tak perlu waktu lama untuk digandrungi oleh
generasi muda hampir di seluruh Indonesia. Para penggandrungnya pun terdiri dari
berbagai macam kelas, mulai dari kelas kantong cekak hingga kelas borjuis
bermodal tebal.
![]() |
| pendaki sedang menikmati sunrise di bukit jamur |
Semangat
berlimpah kaum muda untuk mengeksplorasi setiap potensi wisata yang ada di
sekitar merekapun seperti mendapat suplemen. Apalagi dengan kehadiran
smartphone yang mumpuni. Smartphone yang terkoneksi langsung dengan internet
dan berbagai media sosial semakin memudahkan untuk memenuhi kebutuhan update
dan “pamer”. Termasuklah didalamnya pemuda kalimantan...
Rute awal perjalanan dari basecamp
Kalimantan
yang dijuluki sebagai “pulau seribu sungai” juga memiliki banyak tempat wisata
yang sebenarnya sudah di kunjungi sejak dulu, tetapi karena "hubungan" dengan
internet cukup sulit dan jelas saja belum ada medsos waktu itu. Maka, eksplorasi
hanya habis pada nikmat pribadi semata walaupun terkadang hanya diceritakan
dari mulut ke mulut.
Di
kalimantan tepatnya Prov Kalimantan Barat (Kal-Bar), Kab. Bengkayang terdapat
sebuah tempat wisata yang lain dari pada yang lain. Jika biasanya wisata di
kal-bar identik dengan riam/air terjun. Maka tempat wisata yang satu ini
"menyalahi kodrat" karena ia berupa sebuah perbukitan yang menyuguhkan panorama
yang tak kalah indah dari gunung-gunung di pulau jawa yang ketinggiannya
hampir-hampir menjangkau langit.
Bukit
ini disebut bukit batu ada juga yang menyebutnya “sulur paroah” (bahasa lokal),
tetapi di kalangan generasi muda dan media sosial bukit ini dikenal dengan
sebutan bukit jamur. Menempuh perjalanan hanya 20 menit dari kota bengkayang
maka, kita sudah bisa sampai di desa belangko perkampungan terakhir di kaki
bukit. Ada beberapa kampung yang tepat berada di bawah kaki bukit ini kampung
jaku, kampung Tiga desa, (satunya lagi lupa...hehehehehe)
![]() |
| the king |
![]() |
| the queen |
Kami
berangkat dari bengkayang jam 15.00 supaya tidak kemalaman sampai ke area camp di bukit batu, tetapi baru setengah
jalan kami terguyur hujan lebat hingga sampai basecamp. Bagi pendaki yang
sering mendaki gunung-gunung “tinggi”. Kemungkinan
para pedaki akan merasa agak janggal
melihat basecamp di sini. Karena alih-alih disebut basecamp, tempatnya lebih
tepat disebut sebagai tempat penitipan motor. 15.30 WIB kami sampai di basecamp
ini karena harus berhenti memasang mantel dan juga harus turun saat melewati
jembatan gantung yang licin karena hujan dan “mendebarkan” karena......(lihat
gambar)
Ada
cerita lucu sewaktu melewati jembatan gantung ini. Pabila kami berlima dengan 3
motor harus memikirkan cara yang tepat bagaimana menyebranginya menggunakan
motor. Salah satunya adalah dengan menurunkan penumpang sehingga pengendara
bisa berkonsentrasi untuk melewati jembatan gantung ini. Maka, berbeda halnya
dengan penduduk setempat saat melewatinya. Mereka ada yang dengan santai sambil merokok,
adapula yang hanya menggunakan satu tangan karena tangan yang satunya digunakan
untuk memegang barang bawaan. Can you imagine that?
Di
base ini kami terhenti cukup lama karena harus menunggu hujan berhenti, sambil
menunggu hujan berhenti kami sempatkan untuk memasak air dan membuat kopi. Ouh
ya sebelum dilanjutkan izinkan saya memperkenalkan tim kami sewaktu pendakian
ini. Pertama ; Deka Fitri perempuan satu-satunya, kedua ; Raynaldo Ginting
tetua kita yang usianya paling tua
maksudnya, ketiga ; Theo yang salah pake sepatu, keempat Paulus biasa
dipanggil Doni yang badannya jangkung sendiri dan saya sendiri.
Setelah
hujan cukup reda dan gelas kopi sudah mulai kosong kami memutuskan untuk
berangkat, selama perjalanan tidak ada masalah yang cukup menghambat kecuali
saat mendekati camp area. Kemiringan tanah yang lebih dari 45O dan
jalanan yang licin cukup membuat langkah kami terseok-seok sebelum mencapai
camp area. Sampai di camp area kami harus bergegas karena petang mulai
menghampiri kami. Karena kami tidak membawa tenda dan memang tidak berencana
membawa tenda. Maka kami memutuskan untuk mendirikan camp di daerah pepohonan
dekat puncak. Pasang terpal, hammock dan segala macam kamipun masak mie, bakar
jagung dan hanyut dalam cerita malam hingga terlelap.
![]() |
| Jalan menanjak dengan kemiringan 45derajat dan sepatu yang salah tempat |
Saya yang terbiasa
di gunung jawa menunggu sunrise maka, jam 4.00 lewat kami sudah bangun
menyalakan api karena dingin yang cukup mencucuk dan bikin kopi.ternyata
sunrise di sini "berbeda", tetapi kabut yang mengelilingi benar-benar indah dan
membuat mata terbelalak mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Kabut tipis itu
bertahan hingga jam 9.00 pagi walaupun begitu jam 8.00 para pendaki sudah mulai
turun karena cuaca mulai panas.
![]() |
| sweet hammocking moment |
![]() |
| hammocking everywhere |
Tetapi
pendakian yang seperti itu kurang greget bagi kami, kami bertahan sampai jam
12.00. karena menikmati alam yang seindah itu bukankah tak perlu tergesa-gesa
‘kill the time” setelah makan dan packing. Kami memutuskan turun cukup sulit
karena harus menuruni tanah licin dengan kemiringan lebih 45derajat yang kemarin.
apalagi sewaktu kami sedang packing ternyata turun hujan. terbayang sudah akan
licin sekali jalan itu.
Sebelumnya kami sudah
merencanakan untuk melewati jalur yang lain untuk menghindari jalan tersebut.
Setelah mencari jalur dengan terabas semak, melirik jurang, orientasi medan
kiri-kanan namun jalur tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya kami memilih
jalur kemarin, bayangkanlah betapa sulit menuruni medan tersebut sewaktu hujan
kondisi tersebut juga memaksa theo melepas sepatunya, sendal jepit outdoor doni
putus, bang naldo kakinya lecet, deka? Entahlah, dia tak mengeluh waktu itu,
aku sendiri pun beberapa kali terpeleset karena licin hingga lututpun terasa
nyilu. Jam 14 lebih kami sampai di base karena memang kami pulang dengan
kecepatan santai.
Itulah kira-kira yang bisa kami ceritakan tentang
perjalanan ke bukit jamur masih banyak lagi kenangan yang tak perlu
diceritakan. Cukuplah ia selalu menjadi kenangan yang bersemi di hati.











Mantap mas bro....
BalasHapus