Rabu, 09 Maret 2016

BUKIT BATU ; Bukit tak tinggi itu BERKABUT istimewa





sunrise
Sebuah trend kekinian yang diperkenalkan oleh sebuah tv swasta, My Trip My Adventure (MTMA) benar-benar booming beberapa tahun terakhir. Alhasil aktivitas yang selalu diberi judul MTMA ini, tak perlu waktu lama untuk digandrungi oleh generasi muda hampir di seluruh Indonesia. Para penggandrungnya pun terdiri dari berbagai macam kelas, mulai dari kelas kantong cekak hingga kelas borjuis bermodal tebal. 


pendaki sedang menikmati sunrise di bukit jamur

Semangat berlimpah kaum muda untuk mengeksplorasi setiap potensi wisata yang ada di sekitar merekapun seperti mendapat suplemen. Apalagi dengan kehadiran smartphone yang mumpuni. Smartphone yang terkoneksi langsung dengan internet dan berbagai media sosial semakin memudahkan untuk memenuhi kebutuhan update dan “pamer”. Termasuklah didalamnya pemuda kalimantan...

Rute awal perjalanan dari basecamp


Kalimantan yang dijuluki sebagai “pulau seribu sungai” juga memiliki banyak tempat wisata yang sebenarnya sudah di kunjungi sejak dulu, tetapi karena "hubungan" dengan internet cukup sulit dan jelas saja belum ada medsos waktu itu. Maka, eksplorasi hanya habis pada nikmat pribadi semata walaupun terkadang hanya diceritakan dari mulut ke mulut.

Di kalimantan tepatnya Prov Kalimantan Barat (Kal-Bar), Kab. Bengkayang terdapat sebuah tempat wisata yang lain dari pada yang lain. Jika biasanya wisata di kal-bar identik dengan riam/air terjun. Maka tempat wisata yang satu ini "menyalahi kodrat" karena ia berupa sebuah perbukitan yang menyuguhkan panorama yang tak kalah indah dari gunung-gunung di pulau jawa yang ketinggiannya hampir-hampir menjangkau langit.

Bukit ini disebut bukit batu ada juga yang menyebutnya “sulur paroah” (bahasa lokal), tetapi di kalangan generasi muda dan media sosial bukit ini dikenal dengan sebutan bukit jamur. Menempuh perjalanan hanya 20 menit dari kota bengkayang maka, kita sudah bisa sampai di desa belangko perkampungan terakhir di kaki bukit. Ada beberapa kampung yang tepat berada di bawah kaki bukit ini kampung jaku, kampung Tiga desa, (satunya lagi lupa...hehehehehe)

the king
the queen
 Kami berangkat dari bengkayang jam 15.00 supaya tidak kemalaman sampai ke area camp di bukit batu, tetapi baru setengah jalan kami terguyur hujan lebat hingga sampai basecamp. Bagi pendaki yang sering mendaki gunung-gunung “tinggi”.  Kemungkinan para pedaki akan merasa agak  janggal melihat basecamp di sini. Karena alih-alih disebut basecamp, tempatnya lebih tepat disebut sebagai tempat penitipan motor. 15.30 WIB kami sampai di basecamp ini karena harus berhenti memasang mantel dan juga harus turun saat melewati jembatan gantung yang licin karena hujan dan “mendebarkan” karena......(lihat gambar)
berpose di jembatan gantung
Ada cerita lucu sewaktu melewati jembatan gantung ini. Pabila kami berlima dengan 3 motor harus memikirkan cara yang tepat bagaimana menyebranginya menggunakan motor. Salah satunya adalah dengan menurunkan penumpang sehingga pengendara bisa berkonsentrasi untuk melewati jembatan gantung ini. Maka, berbeda halnya dengan penduduk setempat saat melewatinya.  Mereka ada yang dengan santai sambil merokok, adapula yang hanya menggunakan satu tangan karena tangan yang satunya digunakan untuk memegang barang bawaan. Can you imagine that?

Di base ini kami terhenti cukup lama karena harus menunggu hujan berhenti, sambil menunggu hujan berhenti kami sempatkan untuk memasak air dan membuat kopi. Ouh ya sebelum dilanjutkan izinkan saya memperkenalkan tim kami sewaktu pendakian ini. Pertama ; Deka Fitri perempuan satu-satunya, kedua ; Raynaldo Ginting tetua kita yang usianya paling tua  maksudnya, ketiga ; Theo yang salah pake sepatu, keempat Paulus biasa dipanggil Doni yang badannya jangkung sendiri dan saya sendiri.

Setelah hujan cukup reda dan gelas kopi sudah mulai kosong kami memutuskan untuk berangkat, selama perjalanan tidak ada masalah yang cukup menghambat kecuali saat mendekati camp area. Kemiringan tanah yang lebih dari 45O dan jalanan yang licin cukup membuat langkah kami terseok-seok sebelum mencapai camp area. Sampai di camp area kami harus bergegas karena petang mulai menghampiri kami. Karena kami tidak membawa tenda dan memang tidak berencana membawa tenda. Maka kami memutuskan untuk mendirikan camp di daerah pepohonan dekat puncak. Pasang terpal, hammock dan segala macam kamipun masak mie, bakar jagung dan hanyut dalam cerita malam hingga terlelap. 
 

Jalan menanjak dengan kemiringan 45derajat dan sepatu yang salah tempat

Saya yang terbiasa di gunung jawa menunggu sunrise maka, jam 4.00 lewat kami sudah bangun menyalakan api karena dingin yang cukup mencucuk dan bikin kopi.ternyata sunrise di sini "berbeda", tetapi kabut yang mengelilingi benar-benar indah dan membuat mata terbelalak mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Kabut tipis itu bertahan hingga jam 9.00 pagi walaupun begitu jam 8.00 para pendaki sudah mulai turun karena cuaca mulai panas.

 sweet hammocking moment


hammocking everywhere

Tetapi pendakian yang seperti itu kurang greget bagi kami, kami bertahan sampai jam 12.00. karena menikmati alam yang seindah itu bukankah tak perlu tergesa-gesa ‘kill the time” setelah makan dan packing. Kami memutuskan turun cukup sulit karena harus menuruni tanah licin dengan kemiringan lebih 45derajat yang kemarin. apalagi sewaktu kami sedang packing ternyata turun hujan. terbayang sudah akan licin sekali jalan itu.

Sebelumnya kami sudah merencanakan untuk melewati jalur yang lain untuk menghindari jalan tersebut. Setelah mencari jalur dengan terabas semak, melirik jurang, orientasi medan kiri-kanan namun jalur tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya kami memilih jalur kemarin, bayangkanlah betapa sulit menuruni medan tersebut sewaktu hujan kondisi tersebut juga memaksa theo melepas sepatunya, sendal jepit outdoor doni putus, bang naldo kakinya lecet, deka? Entahlah, dia tak mengeluh waktu itu, aku sendiri pun beberapa kali terpeleset karena licin hingga lututpun terasa nyilu. Jam 14 lebih kami sampai di base karena memang kami pulang dengan kecepatan santai.

kalampiau hammock
            Itulah kira-kira yang bisa kami ceritakan tentang perjalanan ke bukit jamur masih banyak lagi kenangan yang tak perlu diceritakan. Cukuplah ia selalu menjadi kenangan yang bersemi di hati.

1 komentar: