Selasa, 28 Maret 2017

28 maret 2017

Saat menulis ini, di luar hujan dan petir menyambar-nyambar. "Hujan es" begitulah yang tersiar dari salah satu group wa di hp ku.

hujan saat ini dan juga sebelum-sebelumnya,
tak pernah sekalipun ku sangsikan bahwasannya hujan mampu menggiring pikiran menembus nostalgia.
Hujan es membawaku jauh ke masa silam, mungkin saat itu usiaku sekitar 9 atau 10 tahun, dan hujan es memaksa sepakbola tarkam yang saban sore kami mainkan bubar waktu itu.
masa kecil yang indah, bermain, tertawa, menangis, berkelahi, rujuk, hampir selalu seperti itu hingga kedewasaan merenggutnya dengan tanggung jawab dan kewajiban yang harus dipenuhi sebagai anak manusia.

hujan saat ini dan juga sebelum-sebelumnya,
mengingatkanku kepada keluarga yang jauh di seberang pulau, tawa canda mereka.
apa kabar mereka di sana?
konon sawit sudah merambah hutan-hutan di kampungku yang terpelosok itu,
konon tanah-tanah keramat tempat leluhur sudah tandas,
ah... habis sudah ladang, habis sudah embe'k [1] yang biasa diburu, habis sudah onte'k[2]yang (katanya) ketika melihat manusia akan mengejarnya hingga dapat, pilanuk [3], kijang.

apa kabar buah pingan yang ranum, yang biasa begitu berlimpah?
apa kabar durian yang selalu surplus ketika musimnya tiba, dan mampu mengisi tempayan-tempayan nenekku dengan tempuyak yang lezat?
apa kabar mentawak, langsat hutan, pluntan?
sekarang aku di tanah rantau, bisakah aku menikmati semua buah-buah itu lagi nanti ketika kembali pulang.
atau yang kutemui hanya sawit,...
sawit yang tidak bisa langsung dimakan, yang harus dijual dulu untuk kemudian dapat uang, dan kemudian uangnya untuk membeli buah-buah lezat tadi.

hujan saat ini dan juga sebelum-sebelumnya,
berhasil membuat perasaanku campur aduk, berkecamuk. jika tak kuhentikan lamunan mungkin hanya perasaan nestapa yang menyelimuti.

kita ini pandir dan selalu jatuh ke lubang yang sama hanya karena diberikan daya tarik yang sedikit berbeda. 

1. Babi
2. Orang utan
3. Pelanduk