Jumat, 30 Juni 2017

Tribute untuk dokter Stef

Aku sendiri tidak paham apa yang ada di dalam pikiran mbak cantik yang agamis (mungkin rasis) ini.

Tanggal 27 Juni 2017 kemarin lalu beredar sebuah berita yang cukup membuat gempar dunia kesehatan. Berita itu tak lain dan tak bukan adalah mengenai seorang Dokter spesialis Anastesi yang ditemukan meninggal saat sedang bertugas.

Saking viralnya berita ini dalam media daring, kabar angin pun beredar mengenai penyebab kematiannya, misalnya; si dokter meninggal karena tugas jaga 5 hari berturut-turut karena menggantikan seniornya yang sedang cuti, ada pula kabar ia meninggal karena terkena syndrome yang bernama Brugada Syndome, dan masih ada beberapa lagi dugaan yang liar lainnya.

 

Dokter Stef begitulah biasa kami memanggil almarhum, saya sendiri pernah bertemu dan ngobrol beberapa kali dengan Dr Stef terutama ketika di unitku ada pasien yang membutuhkan ICU, dan juga unitku pernah mendapatkan traktiran dari beliau...hehehe (FYI : saya adalah perawat yang ditempatkan di Unit Emergency di RS yang sama dengan beliau).

Banyak sekali ucapan bela sungkawa dari netizen setiap photo beliau diunggah ke media sosial. Ucapannya ada yang benar ada pula yang nyeleneh (biasanya kaum hawa), maklum Dr Stef ini memang ganteng, jangkung, putih, masih muda pula dan tidak pelit.



Dari sekian banyak photo terkait beliau yang dibagikan ada satu hasil screen shoot yang membuatku meradang.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Bagaimanakah cara berpikir mbak ini, ketika orang lain mencoba untuk bersimpati, ia malah menanyakkan apa agama almarhum? sudah hilangkan budaya luhur saling menghormati hanya karena perbedaan agama 

Iya, betul, kita semua masih merasakan aura politik mengenai isu agama yang dimainkan oleh elit-elit politik. tetapi tidakkah bisa mbak cantik ini sehari atau paling tidak semenit saja melupakan isu agama, setidaknya hormatilah orang lain yang sedang berduka.

Gusdur saja pernah bilang :"Jika kau berbuat baik, orang tak pernah tanya apa agamamu"

Sebagai dokter, spesialis pula, tentu saja sudah banyak orang yang ditolong oleh almarhum, dan masih pentingkah agamanya di saat ia berhadapan dengan penciptanya?