Kamis, 24 Maret 2016

Valkyrie “Sebuah Genosida Oleh Jerman Semasa Hitler & Oleh Indonesia Semasa Soeharto”





Pernahkah saudara-saudara sekalian menonton film valkyrie?  Atau malah sudah menontonnya berulang-ulang ? film yang disutradarai oleh bryan singer ini, konon menceritakan kisah nyata tentang percobaan pembunuhan dan kudeta kekuasaan yang kesekian kali terhadap pemimpin partai NAZI yang juga pemimpin jerman “Furher” Adolf Hitler. Kudeta ini menggunakan nama operasi valkyrie yang draftnya ditandatangani langsung oleh Hitler.

menyiagakan pasukan
Operasi  penangkapan  tangan kanan Hitler yang "hampir" berhasil
Cukup menarik karena kudeta ini justru dilakukan beberapa perwira “hebat” dari dalam tubuh militer NAZI sendiri. Walaupun sempat jumawa dengan keyakinan membuncah selama beberapa jam, karena berhasil merebut beberapa district, tetapi sayang sebelum target puncak yaitu menguasai berlin tercapai, kudeta tersebut harus gagal karena Hitler ternyata belum mati dalam percobaan pembunuhan dengan bom di wolf’s lair (sebuah bunker perlindungan tentara). dan kegagalan kudeta ini didukung pula oleh sabotase komunikasi yang merugikan peng-kudeta hingga akhirnya mereka semua dieksekusi. 

Otak di balik konsep kudeta terhadap Hitler
 
Perwira yang memilih bunuh diri daripada dieksekusi

Apakah hubungannya dengan genosida? Seperti kita ketahui bersama rezim fasis Hitler melegitimasi genosida terhadap bangsa yahudi di eropa. Walaupun mereka juga melakukan pembersihan terhadap kaum gipsie, orang cacat fisik, tahanan soviet, homoseksual, komunis dan orang-orang yang tidak setuju dengan agresi yang dilakukan oleh NAZI. Dari semua di atas bangsa yahudi lah yang paling banyak menjadi korban. Jika pada tahun 1933 lebih kurang terdapat 9 juta yahudi di 21 negara eropa maka 12 tahun kemudian yaitu 1945 jumlah tersebut menyusut sekitar 2/3nya.

Pembantaian yahudi atau holocaust










korban holocaust
Walaupun, jumlah korban pembantaian tentara NAZI berlimpah. Namun, Genosida yang dilakukan tidak berjalan mulus begitu saja. Tercatat terjadi beberapa perlawanan dari mereka yang diburu, terhadap tentara Hitler yang akan melakukan “pembersihan”. Bahkan kaum yahudi eropa yang diburu membentuk koloni di hutan-hutan yang mana mereka mengorganisasi dan melengkapi diri dengan senjata api. Ini dilakukan untuk setidaknya memberikan perlawanan terhadap para tentara “pembersih” NAZI yang juga aktif memburu mereka sampai ke dalam hutan.














mereka yang dibantai (PKI atau yang di-PKI kan)
Berselang 2 dekade kemudian sekitar tahun 1965-1966 terjadi juga “pembersihan” terhadap rakyat indonesia yang dilakukan oleh tentara dengan “meminjam” tangan rakyat terhadap orang-orang PKI dan yang “di-PKI-kan”. Menteri negara Oei tjoe tat yang waktu itu ditunjuk untuk bergabung dalam FFC (fact finding comission), melaporkan kepada bung  karno selaku panglima besar KOTI (Komando Operasi Tertinggi) bahwa korban jiwa dari aksi pembantaian ini adalah 500.000 atau 600.000 orang. 5 sampai 6 kali lipat dari angka yang dilaporkan FFC dalam rapat plenonya yaitu sebanyak 80.000 korban jiwa.
mereka yang dibantai (PKI atau yang di-PKI kan)
Mengapa pak Oei bisa melaporkan angka yang berbeda seperti itu kepada bung Karno? Pertama; dikarenakan itu merupakan permintaan langsung dari bung Karno sendiri kepada pak Oei untuk mendapatkan data yang “benar”, kedua; para anggota FFC memiliki time schedule yang sudah diatur sangat detail (padat) sehingga mereka takkan mungkin pergi ke tempat “pembantaian”
 lain yang tidak terdapat pada schedule. Apalagi setiap anggota FFC dilarang berpergian sendirian karena alasan keamanan. Dari tulisan pak Oei dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada yang “disembunyikan”. Maka dari itu pak Oei harus bisa menyelundupkan dirinya agar dapat melakukan pengecekan jumlah korban sebenarnya di luar dari yang didapatkan FFC.
Angka dari pak Oei dan FFC adalah sejumlah “itu”. Sedangkan, kolonel Sarwo edhie selaku “pelaksana” di lapangan pernah mengklaim jumlah korban adalah 3 juta jiwa dan hal ini tak pernah diklarifikasi oleh sang kolonel hingga akhir hayatnya. Angka yang fantastik!
Apakah yang menjadi penyebab dari angka tersebut tadi terwujud? Menurut hemat saya angka tersebut terwujud karena tidak ada “perlawanan” berarti dari pihak tertuduh yaitu PKI dan mereka yang “di-PKI-kan”. Tidak seperti koloni yahudi yang melakukan perlawanan hingga ke dalam hutan terhadap para pembersihnya. Atau mungkin itu juga dikarenakan demoralisasi dari para pendukung PKI yang mana waktu itu telah ditinggal mati oleh pemimpinnya D.N. Aidit. dan mereka  yang tanpa senjata harus melawan tentara dengan perlengkapan siap tempur?
Teringat aku akan sebuah diskusi dan bedah buku “Sarwo Edhi dan tragedi 1965” di sebuah cafe di yogyakarta yang juga menjual buku pada november 2015. Salah satu narasumber pada diskusi tersebut adalah roy murtadho. Ia memaparkan jika pada waktu itu tidak ada provokasi dari pihak tentara yang kemudian menggunakan tangan rakyat untuk membunuh sesama rakyat mungkin tragedi ini takkan terjadi?
Tapi apakah kita juga harus mengkambinghitamkan tentara saja sebagai dalang? Bisa kita jawab iya, bisa juga tidak.  Tentara bisa saja merupakan pelaku dan juga korban pada saat bersamaan. Setidaknya kita bisa perkirakan bahwa kita semua adalah korban dari sekelompok orang yang mengambil keuntungan dari aksi dan reaksi 1965.
Bagaimana pendapat anda?
bapak Orba

(NB : karena keterbatasan referensi beberapa hal yang diketahui pembaca tetapi tidak tertulis. Bisa komen di sini)
Sumber :
Pour Julius : G30S Fakta atau Rekayasa. Kata Hasta Pustaka, Jakarta, 201






Rabu, 09 Maret 2016

BUKIT BATU ; Bukit tak tinggi itu BERKABUT istimewa





sunrise
Sebuah trend kekinian yang diperkenalkan oleh sebuah tv swasta, My Trip My Adventure (MTMA) benar-benar booming beberapa tahun terakhir. Alhasil aktivitas yang selalu diberi judul MTMA ini, tak perlu waktu lama untuk digandrungi oleh generasi muda hampir di seluruh Indonesia. Para penggandrungnya pun terdiri dari berbagai macam kelas, mulai dari kelas kantong cekak hingga kelas borjuis bermodal tebal. 


pendaki sedang menikmati sunrise di bukit jamur

Semangat berlimpah kaum muda untuk mengeksplorasi setiap potensi wisata yang ada di sekitar merekapun seperti mendapat suplemen. Apalagi dengan kehadiran smartphone yang mumpuni. Smartphone yang terkoneksi langsung dengan internet dan berbagai media sosial semakin memudahkan untuk memenuhi kebutuhan update dan “pamer”. Termasuklah didalamnya pemuda kalimantan...

Rute awal perjalanan dari basecamp


Kalimantan yang dijuluki sebagai “pulau seribu sungai” juga memiliki banyak tempat wisata yang sebenarnya sudah di kunjungi sejak dulu, tetapi karena "hubungan" dengan internet cukup sulit dan jelas saja belum ada medsos waktu itu. Maka, eksplorasi hanya habis pada nikmat pribadi semata walaupun terkadang hanya diceritakan dari mulut ke mulut.

Di kalimantan tepatnya Prov Kalimantan Barat (Kal-Bar), Kab. Bengkayang terdapat sebuah tempat wisata yang lain dari pada yang lain. Jika biasanya wisata di kal-bar identik dengan riam/air terjun. Maka tempat wisata yang satu ini "menyalahi kodrat" karena ia berupa sebuah perbukitan yang menyuguhkan panorama yang tak kalah indah dari gunung-gunung di pulau jawa yang ketinggiannya hampir-hampir menjangkau langit.

Bukit ini disebut bukit batu ada juga yang menyebutnya “sulur paroah” (bahasa lokal), tetapi di kalangan generasi muda dan media sosial bukit ini dikenal dengan sebutan bukit jamur. Menempuh perjalanan hanya 20 menit dari kota bengkayang maka, kita sudah bisa sampai di desa belangko perkampungan terakhir di kaki bukit. Ada beberapa kampung yang tepat berada di bawah kaki bukit ini kampung jaku, kampung Tiga desa, (satunya lagi lupa...hehehehehe)

the king
the queen
 Kami berangkat dari bengkayang jam 15.00 supaya tidak kemalaman sampai ke area camp di bukit batu, tetapi baru setengah jalan kami terguyur hujan lebat hingga sampai basecamp. Bagi pendaki yang sering mendaki gunung-gunung “tinggi”.  Kemungkinan para pedaki akan merasa agak  janggal melihat basecamp di sini. Karena alih-alih disebut basecamp, tempatnya lebih tepat disebut sebagai tempat penitipan motor. 15.30 WIB kami sampai di basecamp ini karena harus berhenti memasang mantel dan juga harus turun saat melewati jembatan gantung yang licin karena hujan dan “mendebarkan” karena......(lihat gambar)
berpose di jembatan gantung
Ada cerita lucu sewaktu melewati jembatan gantung ini. Pabila kami berlima dengan 3 motor harus memikirkan cara yang tepat bagaimana menyebranginya menggunakan motor. Salah satunya adalah dengan menurunkan penumpang sehingga pengendara bisa berkonsentrasi untuk melewati jembatan gantung ini. Maka, berbeda halnya dengan penduduk setempat saat melewatinya.  Mereka ada yang dengan santai sambil merokok, adapula yang hanya menggunakan satu tangan karena tangan yang satunya digunakan untuk memegang barang bawaan. Can you imagine that?

Di base ini kami terhenti cukup lama karena harus menunggu hujan berhenti, sambil menunggu hujan berhenti kami sempatkan untuk memasak air dan membuat kopi. Ouh ya sebelum dilanjutkan izinkan saya memperkenalkan tim kami sewaktu pendakian ini. Pertama ; Deka Fitri perempuan satu-satunya, kedua ; Raynaldo Ginting tetua kita yang usianya paling tua  maksudnya, ketiga ; Theo yang salah pake sepatu, keempat Paulus biasa dipanggil Doni yang badannya jangkung sendiri dan saya sendiri.

Setelah hujan cukup reda dan gelas kopi sudah mulai kosong kami memutuskan untuk berangkat, selama perjalanan tidak ada masalah yang cukup menghambat kecuali saat mendekati camp area. Kemiringan tanah yang lebih dari 45O dan jalanan yang licin cukup membuat langkah kami terseok-seok sebelum mencapai camp area. Sampai di camp area kami harus bergegas karena petang mulai menghampiri kami. Karena kami tidak membawa tenda dan memang tidak berencana membawa tenda. Maka kami memutuskan untuk mendirikan camp di daerah pepohonan dekat puncak. Pasang terpal, hammock dan segala macam kamipun masak mie, bakar jagung dan hanyut dalam cerita malam hingga terlelap. 
 

Jalan menanjak dengan kemiringan 45derajat dan sepatu yang salah tempat

Saya yang terbiasa di gunung jawa menunggu sunrise maka, jam 4.00 lewat kami sudah bangun menyalakan api karena dingin yang cukup mencucuk dan bikin kopi.ternyata sunrise di sini "berbeda", tetapi kabut yang mengelilingi benar-benar indah dan membuat mata terbelalak mengagumi indahnya ciptaan Tuhan. Kabut tipis itu bertahan hingga jam 9.00 pagi walaupun begitu jam 8.00 para pendaki sudah mulai turun karena cuaca mulai panas.

 sweet hammocking moment


hammocking everywhere

Tetapi pendakian yang seperti itu kurang greget bagi kami, kami bertahan sampai jam 12.00. karena menikmati alam yang seindah itu bukankah tak perlu tergesa-gesa ‘kill the time” setelah makan dan packing. Kami memutuskan turun cukup sulit karena harus menuruni tanah licin dengan kemiringan lebih 45derajat yang kemarin. apalagi sewaktu kami sedang packing ternyata turun hujan. terbayang sudah akan licin sekali jalan itu.

Sebelumnya kami sudah merencanakan untuk melewati jalur yang lain untuk menghindari jalan tersebut. Setelah mencari jalur dengan terabas semak, melirik jurang, orientasi medan kiri-kanan namun jalur tak kunjung menampakkan diri. Akhirnya kami memilih jalur kemarin, bayangkanlah betapa sulit menuruni medan tersebut sewaktu hujan kondisi tersebut juga memaksa theo melepas sepatunya, sendal jepit outdoor doni putus, bang naldo kakinya lecet, deka? Entahlah, dia tak mengeluh waktu itu, aku sendiri pun beberapa kali terpeleset karena licin hingga lututpun terasa nyilu. Jam 14 lebih kami sampai di base karena memang kami pulang dengan kecepatan santai.

kalampiau hammock
            Itulah kira-kira yang bisa kami ceritakan tentang perjalanan ke bukit jamur masih banyak lagi kenangan yang tak perlu diceritakan. Cukuplah ia selalu menjadi kenangan yang bersemi di hati.