Kamis, 12 Juli 2018

Tebak-tebakan miris

Di suatu pasar yang ramai. Dua orang sahabat sedang bermain dengan riangnya.
“ bro, ayo main tebak-tebakan.”
“ayo, kau duluan”
“tebak yah, bersisik bukannya ikan, bermahkota bukannya raja. Apa itu bro?”
“pertanyaan anak kecil. Jawabannya nanas lah. Sekarang giliranku”
“apa yang paling takhayul di negeri kita ini bro?”
“hmmm...dukun santet?” 
“bukan” 
“nagakah?” 
"bukan” 
terus apa bro?”
“Nyerah yah? Yang paling takhayul di negeri kita ini adalah kemerdekaan bro”

“takhayul dari mana? Kita memang udah merdeka kok sejak 1945. Makanya banyak membaca bro”

Tiba-tiba terdengar bunyi ramai. Ibu-ibu pedagang berteriak histeris, beberapa orang laki-laki dipukul. Terdapat satpol pp, polisi bahkan tentara banyak sekali. 
Ada apa gerangan? Tidak biasanya seperti ini. Sekonyong-konyong alat berat mulai merubuhkan lapak-lapak pedagang. Tanpa peduli teriakan histeris para ibu dan anak-anak dalam gendongan mereka yang jua ikut menangis tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Beberapa orang lelaki diangkut menggunakan mobil polisi, beberapa melawan karena tidak mau dimasukan ke dalam mobil tersebut. Tetapi percuma melawan, toh akhirnya mereka masuk juga. Mereka menyerah setelah beberapa kali bambu yang dipegang oleh tangan-tangan aparat mendarat empuk di wajah ataupun punggung mereka.
Melihat 2 kejadian tersebut 2 sahabat tadi hanya termangu-mangu. Menyaksikan alat berat yang terus beroperasi tanpa lelah, merobohkan lapak-lapak pedagang. 4 jam berlalu sejumlah lapak telah berhasil diratakan dengan tanah
Selamat kalian menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Ujar pengembang kepada komandan.
2 minggu kemudian terpasang plang : Tanah Milik Pemerintah.
2 bulan berlalu tulisan tersebut telah hilang.
2 tahun setelah pengusiran, berdiri megah pusat perbelanjaan di area tersebut


  



Jumat, 15 Juni 2018

Tanah adat ooooooo

Di perantauanku seringkali orang yang mengetahui jika aku keturunan Dayak langsung bertanya "benar yah di sana masih banyak mistis-mistisnya?"
Kadang memang ku iyakan kadang juga tak ku respon.
Jika ku iyakan langsung ku sambung juga dengan kalimat"bukankah di jawa sini juga masih banyak mistis-mistisnya kan?"

Aku haqul yakin, pertanyaan yang sering ku dapatkan itu asalnya dari orang-orang Dayak yang suka menjual kesukuannya baik lewat media sosial maupun melalui percakapan singkat sehari-hari.
Jualan suku itu tentu saja tidak jauh dari mistik, sakti, kebal dan cantik. Apalagi jika mistik tersebut dihubung-hubungkan dengan konflik horizontal yang pernah terjadi 2 dekade silam.
Semakin berkembangnya media sosial maka jualan tersebutpun semakin lancar. Bahkan seseorang yang mendaku dirinya sebagai Pangkalima (entah siapa yg mengangkatnya) pernah membuat mistik itu tampak nyata dengan statusnya yang muncul di linimasaku.
Mistik itu, yang sering kalian dengar tentu saja mampu membuat bergidik.
Tapi realitas yang terjadi pada orang Dayak hari ini, tak seperti itu.
Banyak hal yang lebih mampu membuat kalian merinding.


Sungai-sungai yang dulu airnya layak dipakai MCK (ya, dulu bahkan kini orang Dayak berak di sungai). Tapi sekarang tentu membuat kulit gatal, penampakan sungainya pun keruh, ikan-ikan yang dulu kerap mampir di pinggir jamban saat mencuci beras dan piring, entah kemana perginya.
Hutan dan tanah adat orang Dayak yang menghasilkan banyak buah dan satwa hilang perlahan tapi pasti berganti tambang dan perkebunan kelapa sawit.
WWF sudah memprediksikan hutan Kalimantan hanya tersisa 25% pada tahun 2020.

Lalu apa artinya bagi orang Dayak? Begini yah. Orang Dayak sangat terikat dengan alam dan tanahnya.
Bagaimana bisa pesta panen padi jika sawah saja kita tak punya.
Bagaimana bisa setahun sekali menuba ikan di sungai  kemudian bersama2 memanennya saat sedang mabuk jika di sungai ikannya sudah tak ada?
Sekarang, hari ini, kita memang masih mampu pamer dan pongah di media sosial sebagai orang Dayak dengan menjual kesukuan kita.
Besok, anak cucu kita. entahlah. Mereka mungkin saja masih punya cerita tentang nenek moyangnya suku Dayak.
Tapi hanya cerita dan gambar bukan alam dan adatnya.
Tabik.