Jumat, 15 Juni 2018

Tanah adat ooooooo

Di perantauanku seringkali orang yang mengetahui jika aku keturunan Dayak langsung bertanya "benar yah di sana masih banyak mistis-mistisnya?"
Kadang memang ku iyakan kadang juga tak ku respon.
Jika ku iyakan langsung ku sambung juga dengan kalimat"bukankah di jawa sini juga masih banyak mistis-mistisnya kan?"

Aku haqul yakin, pertanyaan yang sering ku dapatkan itu asalnya dari orang-orang Dayak yang suka menjual kesukuannya baik lewat media sosial maupun melalui percakapan singkat sehari-hari.
Jualan suku itu tentu saja tidak jauh dari mistik, sakti, kebal dan cantik. Apalagi jika mistik tersebut dihubung-hubungkan dengan konflik horizontal yang pernah terjadi 2 dekade silam.
Semakin berkembangnya media sosial maka jualan tersebutpun semakin lancar. Bahkan seseorang yang mendaku dirinya sebagai Pangkalima (entah siapa yg mengangkatnya) pernah membuat mistik itu tampak nyata dengan statusnya yang muncul di linimasaku.
Mistik itu, yang sering kalian dengar tentu saja mampu membuat bergidik.
Tapi realitas yang terjadi pada orang Dayak hari ini, tak seperti itu.
Banyak hal yang lebih mampu membuat kalian merinding.


Sungai-sungai yang dulu airnya layak dipakai MCK (ya, dulu bahkan kini orang Dayak berak di sungai). Tapi sekarang tentu membuat kulit gatal, penampakan sungainya pun keruh, ikan-ikan yang dulu kerap mampir di pinggir jamban saat mencuci beras dan piring, entah kemana perginya.
Hutan dan tanah adat orang Dayak yang menghasilkan banyak buah dan satwa hilang perlahan tapi pasti berganti tambang dan perkebunan kelapa sawit.
WWF sudah memprediksikan hutan Kalimantan hanya tersisa 25% pada tahun 2020.

Lalu apa artinya bagi orang Dayak? Begini yah. Orang Dayak sangat terikat dengan alam dan tanahnya.
Bagaimana bisa pesta panen padi jika sawah saja kita tak punya.
Bagaimana bisa setahun sekali menuba ikan di sungai  kemudian bersama2 memanennya saat sedang mabuk jika di sungai ikannya sudah tak ada?
Sekarang, hari ini, kita memang masih mampu pamer dan pongah di media sosial sebagai orang Dayak dengan menjual kesukuan kita.
Besok, anak cucu kita. entahlah. Mereka mungkin saja masih punya cerita tentang nenek moyangnya suku Dayak.
Tapi hanya cerita dan gambar bukan alam dan adatnya.
Tabik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar