Sabtu, 23 November 2019

Sakti apanya jika tanah adat habis!

Di perantauanku seringkali orang yang mengetahui jika aku keturunan Dayak langsung bertanya "benar yah di sana masih banyak mistis-mistisnya?"
Kadang memang ku-iyakan kadang juga tak ku-respon.
Jika ku-iyakan langsung ku-sambung juga dengan kalimat"bukankah di Jawa sini juga masih banyak mistis-mistisnya kan?"
Pasukan Merah bersiap untuk mengikuti atraksi dan pawai pada Pekan Gawai Dayak di rumah Radakng, Senin (20/5). Foto: Rizkia

Aku haqul yakin, pertanyaan yang sering ku dapatkan itu asalnya dari orang-orang Dayak yang suka menjual kesukuannya baik lewat media sosial maupun melalui percakapan singkat sehari-hari.
Jualan suku itu tentu saja tidak jauh dari mistik, sakti, kebal dan cantik. Apalagi jika mistik tersebut dihubung-hubungkan dengan konflik horizontal yang pernah terjadi 2 dekade silam.
Semakin berkembangnya media sosial maka jualan tersebutpun semakin lancar. Bahkan seseorang yang dengan berani mendaku dirinya sebagai Pangkalima (entah siapa yg mengangkatnya) pernah membuat mistik itu tampak nyata dan terjadi dengan statusnya yang muncul di linimasaku.
Mistik itu, yang sering kalian dengar, tentu saja mampu membuat bulu kuduk merinding.
Tapi realitas yang terjadi pada generasi Dayak hari ini, tak seperti itu. Tidak indah-indah saja bung!
Banyak hal yang lebih mampu membuat kalian merinding.
Sungai-sungai yang dulu airnya layak dipakai Mandi dan mencuci sekarang tampak keruh lumpur dan membuat kulit gatal, ikan-ikan yang dulu kerap mampir di pinggir jamban* saat mencuci beras dan piring, entah kemana perginya.
jamban yang terdampar karena air surut

Hutan dan tanah adat orang Dayak yang menghasilkan banyak buah dan satwa hilang dengan perlahan tapi pasti, lalu berganti dengan tambang dan perkebunan kelapa sawit.

WWF memprediksikan hutan Kalimantan hanya tersisa 25% pada tahun 2020.
Lalu apa artinya bagi orang Dayak? Begini yah. Orang Dayak sebagai masyarakat adat. Sangat terikat dengan alam dan tanahnya.
Bagaimana bisa pesta panen padi jika sawah saja kita tak punya.
Bagaimana bisa setahun sekali menuba ikan di sungai kemudian bersama2 memanennya saat sedang mabuk jika di sungai ikannya sudah tak ada?
Sekarang, hari ini, kita memang masih mampu pamer dan pongah di media sosial sebagai orang Dayak dengan menjual kesukuan kita.
Besok, anak cucu kita. entahlah. Mereka mungkin saja masih punya cerita tentang nenek moyangnya suku Dayak.
Tapi hanya cerita dalam gambar dan buku bukan alam dan adatnya.

Seorang gadis dengan latar hutan dibakar


Dan setelah semuanya hilang. kita akhirnya paham kenapa beberapa waktu lalu seekor orang utan nekat melawan alat berat yang sedang bekerja menghancurkan hutan tempat hidupnya.

Tabik.

*Jamban: tempat mandi, mencuci juga kakus biasanya dibuat dari kayu yang terapung


Rumah Ngkuyang, Rumahku malang.


Rumah Ngkuyang
Rumah Ngkuyang

Kebanggaan dan Perasaan sedih datang bersamaan saat ku jejakkan kakiku di Rumah Panjang ini.
Rumah Panjang ini dinamakan Rumah Kuyang, dibangun pada tahun 1942 dengan 7 buah pintu. Yang mana hanya tersisa lima pintu yang masih dihuni. 1 pintu sudah hancur, lapuk dimakan usia. 1 pintu lainnya ditinggalkan setelah penghuninya membangun rumah di tempat lain.


Bagian rumah yang sudah rusak
.
Sepengetahuanku hanya tersisa 2 Rumah Panjang di Kabupaten Landak. 1 Rumah Kuyang ini, 1 lagi Rumah Panjang yang ada di desa Saham (belum kuketahui namanya).
.

Rumah Kuyang, benar-benar tampak memprihatinkan karena tidak terlihat usaha dari pemerintah setempat untuk melakukan pemugaran pada Rumah bersejarah ini.
Padahal jelas sekali hanya tersisa 2 Rumah Panjang yang ada di Landak. 2 Rumah Panjang ini selamat tentu saja karena penghuninya berani. Berani mempertahankannya dari tuduhan-tuduhan pemerintah waktu itu. Penghuni Rumah Panjang lainnya yang tidak berani, segera saja meninggalkan Rumah Panjangnya bahkan ada yang dengan sengaja membakarnya setelah para penghuninya tak lagi tinggal di situ.
.
Bersamaan dengan itu maka hilang sudah kebudayaan lisan yang biasa dituturkan nenek moyang di dalam rumah panjang. Bukan hanya itu, perlahan-lahan identitas kedayakannya pun hilang.
Kita begitu pongah saat Suku Dayak disebut sakti, cantik, putih dsb.
Tapi semakin hari kita kehilangan media komunikasi dengan leluhur.
.
Sekarang, di Kabupaten Landak, hanya 2 Rumah Panjang yang tersisa itupun agak kuang terawat. 
Begitu tegakah kita sebagai anak Dayak membiarkannya rusak perlahan dimakan usia.

.
Nb: Rumah Kuyang ini berada di Desa Tebedak, sekitar 6km dari Ngabang, kabupaten Landak, Kalimantan Barat

Bekerja keras bagai kuda, saat sakit kesono aja


Siang itu memang tak seperti biasanya. Ketika gawaiku yang sedari tadi berisik tangtingtong kubuka. Whatsapp group kantor mengabarkan; seorang rekan kerja kami kecelakaan. Ia terjungkal dari sepeda motor dan setelah di-foto rontgen hasilnya jelas ia mengalami patah lengan kiri atas dan harus segera di-operasi.

Kami adalah rekan kerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dan RS ini tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan.
Sebagai perawat, tentu saja, kami paham betul bahwa tindakan operasi tersebut harus segera dilakukan agar proses pemulihan tulang berjalan semestinya dan bentuk tulang yang patah, paling tidak hampir menyamai posisi awal sebelum patah.

Untung memang tak dapat diraih, oleh HRD, rekanku dihadapkan pada pilihan ; jika ingin tetap operasi di RS ini, maka harus menanggung 10 % dari total biaya, sesuai dengan benefit karyawan jika berobat. Atau, pembiayaan-nya ditanggung penuh oleh BPJS ketenagakerjaan tetapi harus dirujuk ke RS lain yang bekerja sama dengan BPJS ketenagakerjaasn .
Rekanku, dengan berat hati mengambil pilihan yang kedua. Ia kemudian dirujuk dan besok akan pulang setelah menjalani perawatan selama 4 hari.

Apakah ada yang salah dengan yang disampaikan HRD? toh ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk tindakan operasinya.
Hemm, begini. Bagi orang yang bekerja atau setidaknya pernah bekerja di RS sebagai tenaga kesehatan, dirawat oleh rekan sendiri akan membuat kita merasa lebih nyaman daripada dirawat oleh orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Dan, rasa nyaman, rasa percaya, mampu membuat proses penyembuhan (psikologis) menjadi lebih cepat. Kenapa, karena kita dikelilingi oleh rekan kerja sehari-hari yang sudah kira kenal.

Bukankah sudah seharusnya perusahaan memberikan jaminan kesehatan 100% kepada karyawannya. Para karyawan ini sudah bekerja sepenuh hati dan tak jarang dimaki karena dianggap lalai, lambat dan malas oleh pasien dan keluarganya yang berobat. Sementara, ratio antara jumlah petugas dengan pasien seringkali timpang, sehingga petugas seperti kami mau tak mau harus kerja ekstra agar semua pasien bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal.

Kami sudah merawat sebaik-baiknya semua pasien/klien/costumer yang datang berobat ke RS ini, tetapi ketika kami sakit yang memerlukan tindakan, kenapa kami harus di-oper ke RS lain.
Sudah 2x ini terjadi, apakah besok harus ada lagi?

Dan betul saja ternyata ada lagi!!!