Sabtu, 23 November 2019

Bekerja keras bagai kuda, saat sakit kesono aja


Siang itu memang tak seperti biasanya. Ketika gawaiku yang sedari tadi berisik tangtingtong kubuka. Whatsapp group kantor mengabarkan; seorang rekan kerja kami kecelakaan. Ia terjungkal dari sepeda motor dan setelah di-foto rontgen hasilnya jelas ia mengalami patah lengan kiri atas dan harus segera di-operasi.

Kami adalah rekan kerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dan RS ini tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan.
Sebagai perawat, tentu saja, kami paham betul bahwa tindakan operasi tersebut harus segera dilakukan agar proses pemulihan tulang berjalan semestinya dan bentuk tulang yang patah, paling tidak hampir menyamai posisi awal sebelum patah.

Untung memang tak dapat diraih, oleh HRD, rekanku dihadapkan pada pilihan ; jika ingin tetap operasi di RS ini, maka harus menanggung 10 % dari total biaya, sesuai dengan benefit karyawan jika berobat. Atau, pembiayaan-nya ditanggung penuh oleh BPJS ketenagakerjaan tetapi harus dirujuk ke RS lain yang bekerja sama dengan BPJS ketenagakerjaasn .
Rekanku, dengan berat hati mengambil pilihan yang kedua. Ia kemudian dirujuk dan besok akan pulang setelah menjalani perawatan selama 4 hari.

Apakah ada yang salah dengan yang disampaikan HRD? toh ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk tindakan operasinya.
Hemm, begini. Bagi orang yang bekerja atau setidaknya pernah bekerja di RS sebagai tenaga kesehatan, dirawat oleh rekan sendiri akan membuat kita merasa lebih nyaman daripada dirawat oleh orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Dan, rasa nyaman, rasa percaya, mampu membuat proses penyembuhan (psikologis) menjadi lebih cepat. Kenapa, karena kita dikelilingi oleh rekan kerja sehari-hari yang sudah kira kenal.

Bukankah sudah seharusnya perusahaan memberikan jaminan kesehatan 100% kepada karyawannya. Para karyawan ini sudah bekerja sepenuh hati dan tak jarang dimaki karena dianggap lalai, lambat dan malas oleh pasien dan keluarganya yang berobat. Sementara, ratio antara jumlah petugas dengan pasien seringkali timpang, sehingga petugas seperti kami mau tak mau harus kerja ekstra agar semua pasien bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal.

Kami sudah merawat sebaik-baiknya semua pasien/klien/costumer yang datang berobat ke RS ini, tetapi ketika kami sakit yang memerlukan tindakan, kenapa kami harus di-oper ke RS lain.
Sudah 2x ini terjadi, apakah besok harus ada lagi?

Dan betul saja ternyata ada lagi!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar