Siang itu memang tak
seperti biasanya. Ketika gawaiku yang sedari tadi berisik
tangtingtong kubuka. Whatsapp group kantor mengabarkan;
seorang rekan kerja kami kecelakaan. Ia terjungkal dari sepeda motor
dan setelah di-foto rontgen hasilnya jelas ia mengalami patah
lengan kiri atas dan harus segera di-operasi.
Kami adalah rekan kerja
di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dan RS ini tidak bekerja
sama dengan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan.
Sebagai perawat, tentu
saja, kami paham betul bahwa tindakan operasi tersebut harus segera
dilakukan agar proses pemulihan tulang berjalan semestinya dan bentuk
tulang yang patah, paling tidak hampir menyamai posisi awal sebelum
patah.
Untung memang tak dapat
diraih, oleh HRD, rekanku dihadapkan pada pilihan ; jika ingin tetap
operasi di RS ini, maka harus menanggung 10 % dari total biaya,
sesuai dengan benefit karyawan jika berobat. Atau,
pembiayaan-nya ditanggung penuh oleh BPJS ketenagakerjaan tetapi
harus dirujuk ke RS lain yang bekerja sama dengan BPJS
ketenagakerjaasn .
Rekanku, dengan berat
hati mengambil pilihan yang kedua. Ia kemudian dirujuk dan besok akan
pulang setelah menjalani perawatan selama 4 hari.
Apakah ada yang salah
dengan yang disampaikan HRD? toh ia tidak mengeluarkan uang
sepeserpun untuk tindakan operasinya.
Hemm, begini. Bagi orang
yang bekerja atau setidaknya pernah bekerja di RS sebagai tenaga
kesehatan, dirawat oleh rekan sendiri akan membuat kita merasa lebih
nyaman daripada dirawat oleh orang lain yang tidak kita kenal
sebelumnya. Dan, rasa nyaman, rasa percaya, mampu membuat proses
penyembuhan (psikologis) menjadi lebih cepat. Kenapa, karena kita
dikelilingi oleh rekan kerja sehari-hari yang sudah kira kenal.
Bukankah sudah seharusnya
perusahaan memberikan jaminan kesehatan 100% kepada karyawannya. Para
karyawan ini sudah bekerja sepenuh hati dan tak jarang dimaki karena
dianggap lalai, lambat dan malas oleh pasien dan keluarganya yang
berobat. Sementara, ratio antara jumlah petugas dengan pasien
seringkali timpang, sehingga petugas seperti kami mau tak mau harus
kerja ekstra agar semua pasien bisa mendapatkan pelayanan yang
maksimal.
Kami sudah merawat
sebaik-baiknya semua pasien/klien/costumer yang datang berobat ke RS
ini, tetapi ketika kami sakit yang memerlukan tindakan, kenapa kami
harus di-oper ke RS lain.
Sudah 2x ini terjadi,
apakah besok harus ada lagi?
Dan betul saja ternyata ada lagi!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar