Di
perantauanku seringkali orang yang mengetahui jika aku keturunan
Dayak langsung bertanya "benar yah di sana masih banyak
mistis-mistisnya?"
Kadang
memang ku-iyakan kadang juga tak ku-respon.
Jika
ku-iyakan langsung ku-sambung juga dengan kalimat"bukankah di
Jawa sini juga masih banyak mistis-mistisnya kan?"
![]() |
Pasukan
Merah bersiap untuk mengikuti atraksi dan pawai pada Pekan Gawai
Dayak di rumah Radakng, Senin (20/5). Foto: Rizkia |
Jualan suku
itu tentu saja tidak jauh dari mistik, sakti, kebal dan cantik.
Apalagi jika mistik tersebut dihubung-hubungkan dengan konflik
horizontal yang pernah terjadi 2 dekade silam.
Semakin
berkembangnya media sosial maka jualan tersebutpun semakin lancar.
Bahkan seseorang yang dengan berani mendaku dirinya sebagai
Pangkalima (entah siapa yg mengangkatnya) pernah membuat mistik itu
tampak nyata dan terjadi dengan statusnya yang muncul di linimasaku.
Mistik
itu, yang sering kalian dengar, tentu saja mampu membuat bulu kuduk
merinding.
Tapi
realitas yang terjadi pada generasi Dayak hari ini, tak seperti itu.
Tidak indah-indah saja bung!
Banyak
hal yang lebih mampu membuat kalian merinding.
Sungai-sungai
yang dulu airnya layak dipakai Mandi dan mencuci sekarang tampak
keruh lumpur dan membuat kulit gatal, ikan-ikan yang dulu kerap
mampir di pinggir jamban* saat mencuci beras dan piring, entah kemana
perginya.
| jamban yang terdampar karena air surut |
Hutan
dan tanah adat orang Dayak yang menghasilkan banyak buah dan satwa
hilang dengan perlahan tapi pasti, lalu berganti dengan tambang dan
perkebunan kelapa sawit.
WWF
memprediksikan hutan Kalimantan hanya tersisa 25% pada tahun 2020.
Lalu
apa artinya bagi orang Dayak? Begini yah. Orang Dayak sebagai
masyarakat adat. Sangat terikat dengan alam dan tanahnya.
Bagaimana
bisa pesta panen padi jika sawah saja kita tak punya.
Bagaimana
bisa setahun sekali menuba ikan di sungai kemudian bersama2
memanennya saat sedang mabuk jika di sungai ikannya sudah tak ada?
Sekarang,
hari ini, kita memang masih mampu pamer dan pongah di media sosial
sebagai orang Dayak dengan menjual kesukuan kita.
Besok,
anak cucu kita. entahlah. Mereka mungkin saja masih punya cerita
tentang nenek moyangnya suku Dayak.
Tapi
hanya cerita dalam gambar dan buku bukan alam dan adatnya.
Seorang gadis dengan latar hutan dibakar |
Dan setelah semuanya hilang. kita akhirnya paham kenapa beberapa waktu lalu seekor orang utan nekat melawan alat berat yang sedang bekerja menghancurkan hutan tempat hidupnya.
Tabik.
*Jamban:
tempat mandi, mencuci juga kakus biasanya dibuat dari kayu yang
terapung
