Rabu, 24 Agustus 2016

PEMBUBARAN PAKSA PERPUSTAKAAN JALANAN (Gerakan Pembodohan Generasi Muda Indonesia)




Gerakan Perpustakaan akhir-akhir ini sedang marak di indonesia, gerakan ini menjalar dari kota besar bahkan hingga ke pelosok indonesia. Inisiatornya kebanyakan adalah kaum muda, mereka membuka lapak buku di jalanan dan tempat-tempat publik daerah masing-masing, agar bacaan terakses oleh khalayak ramai. Beberapa kelompok penggiat perpustakaan jalanan yang saya ketahui antara lain ; perpustakaan jalanan bandung, gerakan literasi jalanan, komunitas pecandu buku, kebun buku, gerakan rumah baca komunitas love borneo dan masih banyak lagi yang belum saya ketahui. 
 
Tujuan dari komunitas-komunitas tersebut, sudah tentu dapat kita tebak mengunakan logika yang paling sederhana, yaitu ; agar supaya setiap orang memperoleh kesempatan untuk ikut mencerdaskan dirinya sendiri melalui buku bacaan yang dibawa oleh komunitas. Masalah bukunya masih belum banyak dan belum dapat mewakili tema-tema tertentu yang diinginkan pembaca, itu bukan hal. Niat mereka. Niat para pemuda dari komunitas inilah yang patut kita apresiasi dan wajib kita dukung.
Data dari UNESCO1 pada tahun 2012 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat indonesia hanya mencapai 0,001 yang artinya bahwa dari tiap 1000 orang indonesia yang memiliki minat baca hanya 1 orang. HANYA 1 ORANG SAJA!.

Berdasarkan data tersebut sudah seharusnya pemerintah mendukung dan menggalakkan kegiatan sadar membaca, salah satunya ; ya dengan mendukung kegiatan perpustakaan jalanan ini. Dukungan yang diberikan oleh pemerintah tak harus berupa materi, dukungan moral saja, itu sudah cukup. Karena saya percaya, idealisme pemuda bukan tentang materi semata.




Nah, apabila kemudian di media sosial berseliweran secara viral sebuah artikel tentang pembubaran paksa perpustakaan jalanan di bandung yang disertai dengan dugaan pemukulan2 terhadap penggiatnya oleh oknum TNI. Saya jadi bertanya-tanya makna dari kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa yang terdapat dalam UUD 45. Pembubaran yang dilakukan pun menggunakan alasan yang cenderung merupakan pembenaran semata3. Sampai di sini, saya jadi bingung dalam berlogika, terutama memahami logika penguasa negeri. Apakah bukan sesuatu yang urgent untuk mencerdaskan anak bangsa melalui bacaan, tetapi kenapa oknum TNI yang merupakan representasi dari keamanan negara, justru membuat penggiat perpustakaan jalanan tak aman saat mencoba mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kaum muda negeri ini diminta oleh kemenhan untuk melakukan bela negara. Bela negara yang di maksud tentunya bela negara ala Kemenhan. Apakah kesadaran membaca bukan merupakan pemicu bela negara yang paling dasar dan harus terpenuhi? Atau apakah bagi para penguasa negeri, yang primordial dari bela negara hanya baris-berbaris dan mengangkat senjata saja.
Jika seperti itu ; kita, terutama penguasa seharusnya malu kepada para founding father yang berjuang melalui pemikiran dan tulisan. Karena perjuangan hari ini tidak lebih hanya dimaknai dari sisi angkat senjata untuk mempertahankan negeri.  

Selasa, 16 Agustus 2016

Takhayul kemerdekaan

Takhayul kemerdekaan?...
 

Pertama kali terbaca kalimat itu olehku pada status seorang kawan bernama Yasir Dayak. Seorang pemuda yang (setahu saya) sekarang sedang mondar mandir di jawa tengah terutama daerah pegunungan kendeng. 
Dan bersama petani kendeng berjuang melawan rakusnya PT. Semen indonesia, yang melalui amdal abal-abalnya berusaha untuk merampas tanah petani. Yasir, pemuda kalimantan berdarah dayak dan juga mahasiswa di jogja ini, menyebut dirinya sebagai Neo-GLI, bukan Neo-PKI apalagi Neo-LIB. 
 
Jika dibedah menggunakan pisau analisis (meminjam istilah para pemikir), maka aku cukup setuju dengan kalimat takhayul kemerdekaan tersebut.  
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa di seluruh indonesia yang paling merasakan nikmatnya kemerdekaan adalah pulau jawa. Hal ini terutama jika kemerdekaan kita lihat dari segi sarana dan prasarana.
 
Tetapi, terlalu sempit cara berpikir kita, apabila kemerdekaan hanya menggunakan tolok ukur pada sarana dan prasarana semata.
Kemerdekaan manusia indonesia lah yang paling penting. Merdeka untuk mendapatkan hak-hak dasarnya. Hak-hak dasar, yang oleh negara melalui penguasanya selalu dikebiri selama ini. 
 
Apa kau pernah tahu bahwa petani-petani tanahnya dirampas? Peraturan pemerintah secara langsung maupun tidak, melarang para petani berladang. Macam-macam cara pelarangan itu, misalnya; menuduh petani sebagai pembakar hutan. Ku katakan padamu : petani tak membakar hutan, mereka tahu batasan saat membakar dan ini adalah kearifan lokal yg sudah ada bahkan sebelum negara ada. 
Dan lucunya setelah pembatasan-pembatasan terhadap petani, negara kita masih bangga dengan gelar negara agraris. 

 
Buruh-buruh apa kabar? Setelah tanahnya dirampas mereka mau tak mau bekerja pada perusahaan. Tenaga mereka diperas, upah murah, jam kerja yang lama bahkan tak ada jaminan bagi mereka yang terikat kontrak. Itu semua demi kepentingan kaum borjuis kapitalis, para investor bermodal besar itu. . Dunia Pendidikan? Sama saja, masih merasakan takhayul kemderdekaan ini. 
 
Sekolah-sekolah di kampung bobrok tak terawat, guru-guru yang tak ada di jam-jam belajar siswa. Pendidikan di perkotaan juga tak jauh beda. Leliberalisasi pendidikan menjadikan ruang pendidikan 
sangat mahal, tak tersentuh rakyat miskin. Padahal pada tiap-tiap ayat UUD 45 pasal 31 tertulis jelas : 1.Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. 2.Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. (masih ada 3 ayat lagi, silahkan tnya google). 

 
Hari ini 17 agustus lagi. 17 agustus yang ke-71. 3 tahun yang lalu, 17 agustus ke-68 di gunung slamet, aku dengan bangga memegang bendera merah putih dan mengucap merdeka!.
Itu 3 tahun yang lalu. Saat mataku masih tertutup oleh nikmat yang dipertontonkan media. Apa hari ini aku tidak bangga dengan memegang bendera merah putih? Tidak. Aku masih bangga dan terus bangga dengan memegang bendera merah putih. Yang melunturkan kebanggaanku adalah pemerintah yang masih memberikan takhayul kemerdekaan bagi rakyat indonesia. Pemerintah yang lebih pro kepada investor dari pada rakyatnya. Pemerintah yang menelanjangi hak-hak warga negaranya demi kepentingan borjuis kapitalis



Kamis, 11 Agustus 2016

Cepern 2 : Aksara Perpisahan



Tertegun aku saat kau sodorkan sapu tangan jingga itu padaku. Air mata ini kerontang telah beludak kemarin lalu. Takkan pernah lagi kau temukan satu bulir tetespun kan mengalir. Pun pabila nanti kau kedapatan melihatnya itu hanyalah ujud ungkapan kenestapaan. Seutas lara yang telah menjadi bilur benci bak jelaga pekat, menyepi dalam remuk redamnya yang paling dalam.

Sapu tangan jingga itu ku raih. Dengan kelembutannya yang menenangkan ku seka pipiku. Odor sapu tangan ini begitu melesat merasuk jiwa, aroma keindahan yang tak pernah ku hirup sekian lama. Lesaplah ia ke dalam jiwaku, satu aroma yang membenamkan dirinya dalam memori. 

Kasihku, kau tak pernah tahu bahwa hati ini begitu gulana. Gulana ketika kau dan langkah kakimu, memilih menjauh. Kaulah pemegang kunci hati ini adinda. Kenapa pula kau mencampakkannya ke ruang kesedihan yang tak terperikan. Jejak langkah untaian sejuta makna, asa akhir pelaminan indah yang telah kita rajut sebagai impian bersama, pupus. Pupus sudah semuanya! 

Kenapa. Kenapa kau melangkah pergi adinda? Mendereskan luka di hati yang ringkih? Dikau lupa pada janji suci yang ku ucap di bawah bayang purnama waktu itu? Atau memorimu cenderung memilih mengingat kabut pekat tebal yang sekonyong-konyong datang menyajikan temaram, mengelabui pandang mata kita berdua akan satu keindahan yang hakiki.

Tak dinyana semua berakhir bak tempo sehari lalu. Mengharap jawab padamu aku gugu, aku kehilangan nyali. Geru dalam hati. Hanya itu pekik nyaring, bahana yang menembus gema-gema sunyi tak terdengar

Tapi, kasihku. apa kau pernah tau? Telah ku ukir aksara sebanyak bintang di angkasa, seluas laut di samudera, melimpah ruah. Itu semua,...itu semua agar memori tentangmu tak lekang. Abjad yang berbisik padaku tentang kita, takkan pernah renta dimakan usia. Meski keriput tak berhenti menghiasi dekik ayu di wajahmu. Aksara elegi perpisahan ini adalah cara bahwa sekalipun kau telah tiada di sisi, sekalipun kau telah memasygulkan htaiku. Akan terus mengalir kisah yang tetap ku baca. Tentangmu tentang kita yang beriringan menuju ke keabadian.

Inilah penghujung tulisan elegi dariku. Akan ku tutup ia rapat-rapat. Akan ku buka pada waktunya, sebagai pengingat bahwa pilu pernah begitu menyayat. Luka yang telah menyembuhkan dirinya

Araberingin, Agustus 2016