Gerakan Perpustakaan akhir-akhir ini sedang marak di indonesia, gerakan ini menjalar dari kota besar bahkan hingga ke pelosok indonesia. Inisiatornya kebanyakan adalah kaum muda, mereka membuka lapak buku di jalanan dan tempat-tempat publik daerah masing-masing, agar bacaan terakses oleh khalayak ramai. Beberapa kelompok penggiat perpustakaan jalanan yang saya ketahui antara lain ; perpustakaan jalanan bandung, gerakan literasi jalanan, komunitas pecandu buku, kebun buku, gerakan rumah baca komunitas love borneo dan masih banyak lagi yang belum saya ketahui.
Tujuan dari
komunitas-komunitas tersebut, sudah tentu dapat kita tebak mengunakan logika
yang paling sederhana, yaitu ; agar supaya setiap orang memperoleh kesempatan
untuk ikut mencerdaskan dirinya sendiri melalui buku bacaan yang dibawa oleh
komunitas. Masalah bukunya masih belum banyak dan belum dapat mewakili
tema-tema tertentu yang diinginkan pembaca, itu bukan hal. Niat mereka. Niat para
pemuda dari komunitas inilah yang patut kita apresiasi dan wajib kita dukung.
Data dari UNESCO1
pada tahun 2012 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat indonesia hanya
mencapai 0,001 yang artinya bahwa dari tiap 1000 orang indonesia yang memiliki
minat baca hanya 1 orang. HANYA 1
ORANG SAJA!.
Berdasarkan data
tersebut sudah seharusnya pemerintah mendukung dan menggalakkan kegiatan sadar
membaca, salah satunya ; ya dengan mendukung kegiatan perpustakaan jalanan ini.
Dukungan yang diberikan oleh pemerintah tak harus berupa materi, dukungan moral
saja, itu sudah cukup. Karena saya percaya, idealisme pemuda bukan tentang
materi semata.
Nah, apabila kemudian
di media sosial berseliweran secara viral sebuah artikel tentang pembubaran
paksa perpustakaan jalanan di bandung yang disertai dengan dugaan pemukulan2
terhadap penggiatnya oleh oknum TNI. Saya jadi bertanya-tanya makna dari
kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa
yang terdapat dalam UUD 45. Pembubaran yang dilakukan pun menggunakan alasan
yang cenderung merupakan pembenaran semata3. Sampai di sini, saya jadi
bingung dalam berlogika, terutama memahami logika penguasa negeri. Apakah bukan
sesuatu yang urgent untuk mencerdaskan anak bangsa melalui bacaan, tetapi
kenapa oknum TNI yang merupakan representasi dari keamanan negara, justru
membuat penggiat perpustakaan jalanan tak aman saat mencoba mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Kaum muda negeri ini
diminta oleh kemenhan untuk melakukan bela negara. Bela negara yang di maksud
tentunya bela negara ala Kemenhan. Apakah kesadaran membaca bukan merupakan
pemicu bela negara yang paling dasar dan harus terpenuhi? Atau apakah bagi para
penguasa negeri, yang primordial dari bela negara hanya baris-berbaris dan
mengangkat senjata saja.
Jika seperti itu ; kita,
terutama penguasa seharusnya malu kepada para founding father yang berjuang melalui pemikiran dan tulisan. Karena
perjuangan hari ini tidak lebih hanya dimaknai dari sisi angkat senjata untuk
mempertahankan negeri.








