Selasa, 27 Desember 2016

Sampai hari ini, masih terngiang dalam ingatanku tentang obrolan bersama seorang ibu dari NTT yang mengantarkan anaknya kuliah di ibu kota.
percakapan itu terjadi di sebuah warteg di waktu makan siang.

S : ibu yang semalam ke asrama antar anaknya itu yah bu
I : iya mas, ouh mas yang semalam sama teman-temannya ibu tanyain itu yah?
S: iya bu
(hening, karena konsentrasi makan)
I : mas kuliah di mana?
S : saya di jogja bu, kebetulan sedang main ke teman ini.
I : semester berapa mas?
S : kebetulan saya sudah lulus bu, anak ibu semester berapa bu?
I : ouh anak saya baru masuk mas, ambil jurusan bidan.
S : wah jauh juga yah bu, ibu dari NTT yah? kenapa ga di jogja atau malang aja bu nguliahin anaknya?
I: di sana sudah terlalu banyak orang kita mas, jadi biar di sini saja. biar tidak main sembarangan. makanya saya suruh tinggal di asrama saja.
S : ouh gitu
I : mas dari mana ?
S: Saya asli kalimantan barat bu, pontianak.
I : sudah pernah ke NTT?
S : pingin bu, soalnya banyak juga teman di sana. tapi belum kesampaian
I: mas pernah dengar hotel termahal di indonesia ada di tempat saya. (kalau tidak salah ibu tersebut menyebut daerah Sumba)
S : ouh iya yah bu
I : iya mas, semalam saja biayanya 30 juta (menurut ibu itu)
S : kita masyarakat bahkan bupati saja ga boleh ke sana mas, khusus untuk orang-orang kaya aja yang boleh masuk.

dari awal percakapan hingga akhir saya melihat bahwa si ibu begitu bangga setelah menyebut hotel termahal di indonesia ada di tempatnya, di tanah kelahirannya.

tapi saya justru sedih, sedih saat si ibu dengan pongah berkata "kita masyarakat bahkan bupati saja ga boleh ke sana mas, khusus untuk orang-orang kaya aja yang boleh masuk."

suatu kebanggaan yang tidak harus dibanggakan,
apa yang bisa dibanggakan setelah masyarakat atau orang asli tersingkir dari tanahnya dan kemudian tak boleh menapakkan kakinya di tanah yang dulu miliknya.

Senin, 26 Desember 2016

Nama dan penghapusan ingatan budaya

Coba mari kita sebutkan nama anak-anak indonesia saat ini ;  Queennaya, Aldebaran, Denzel, Xisco, Steve, masih banyak lagi dan generasi sebelum kita belum ada yang menggunakan nama ini. Nama yang tersemat pada seorang anak adalah sangat tergantung dari orangtua masing-masing, di kota-kota besar sudah jamak jika nama yang disandang seorang anak sangat bagus dan sudah tentu terdengar unik.

 

 

Apakah ada yang salah dengan penggunaan nama-nama tersebut? Tentu tidak. Karena bagaimanapun juga adalah hak orang tua untuk memberikan nama kepada anaknya, layaknya nama-nama yang lain pasti secara implisit selalu terselip doa, doa yang mengiringi anak sepanjang usia sang anak.

Zaman memang telah berubah, berjalan cepat meninggalkan yang gagap dan lambat. Sejurus dengan langkah yang tegak nama-nama jadul, kuno, norak seperti Subagyo, Umbu, Dadang, Atep, Parman, Sri, Suginem, Ayu, Nanik, Butet dan lainnya tertinggal dan ditinggalkan.

 

 

Selamat tinggal kampungan, kuno! kau memang layak masuk keranjang sampah kami memasuki era kekinian dan kau dengan nama yang tersemat menunjukkan kau bukan darai zaman ini. Kau adalah generasi lalu, generasi yang harus dilupakan.

Dan hari ini kita berjalan menapaki sisa-sisa jejak budaya adiluhung, jejak budaya yang telah menembus abad dan seolah kini layak ditinggalkan karena sepanjang waktu propaganda kampungan, norak, dan tidak dinamis  selalu dikumandangkan dalam sendi-sendi kehidupan.


Sumber gambar google

Imajinasi ideal mahasiswa


“Coy, ga ke kampus?”

Begitu terdengar suara dari luar mengetuk pintu kamarku dengan agak kasar. “Masuk! Ngapain ke kampus?” jawabku dengan nada ogah-ogahan.

“Kampretlah kau coy, lupakah kalau ada rapat panitia ospek jam 18.00 di kampus? 10 menit lagi jam 18.00”

“tapi kan ospek udah dihapus sama menteri pendidikan pak Anies Baswedan” jawabku

“lihat berita ga? Menteri udah di reshufle coy. Bukan pak Anies lagi menteri pendidikan. Gimana? Ikut ke kampus ndak?”

Sembari ngeliat jam. “ aku belum mandi, bentar ngopi dululah. Paling nanti molor rapatnya”

“aish...bolehlah coy, mana kopi bali yang dikasi gebetanmu yang anak Hima tu?”

“Udah habis. kalaupun masih, hanya aku sendiri yang boleh menyeduhnya. Biar kami bercengkrama lewat aroma kopi yang menguar, menelusup jiwa, menyatukan rasa”

“hahahaha taik lah kau coy”

“Tu ada kopi sachetan ditoples, aku mandi dulu”


Mahasiswa kekinian yang kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat) biasalah dengan obrolan kayak gini. Dan hal biasa juga pas rapat ada mahasiswa yang cuma ngecengin gebetan sebagai motivasi berorganisasi. Sambil menyelam minum air.  Ada yang cukces, tak cedikit yang gagal.

Berangkat kampus pagi sampai siang (ini kuliah beneran loh ya), rapat sore sampai malam. Ya, ga gitu setiap hari sih, kadang-kadang aja. Paling kalau pas lagi ada kegiatan kampus yang diikuti. Biasanya sih kegiatan kampus itu pensi, makrab, seminar dan yang paling besar ya ospek. Saat di mana banyak maba-maba polos mengggemaskan berkeliaran, dengan atasan putih celana atau rok hitam bahkan tak jarang mereka diminta eh disuruh memakai aksesoris-aksesoris yang ga ada esensinya bagi seorang yang berpendidikan. Suka-suka panitia dong! Ente kan maba ikut aja!


seperti biasa sebelum kegiatan-kegiatan tadi pastilah ada proposal ke kampus lebih dulu. Masak kegiatan ga dapat dana? kan ada dana mahasiswa. Lewat prosedural yang benar, setelah dapat tanda tangan BEM  DPM ajukan ke kemahasiswaan atau apalah namanya biro itu, tunggu seminggu atau 2 minggu kemudian keluar dah duitnya. Kadang duitnya banyak kadang duitnya dikit. Kalau duitnya banyak bolehlah diambil sedikit hitung-hitung belajar korup sejak dini wong presiden terkorup salah satunya presidenmu kok (upppz). 

kalau duitnya dikit, mampus kau berusaha dana. Pontang-panting mikirin ide agar kegiatan tetap berlangsung dan dana yang kurang tercukupi. Terserah mau ngamen, jualan. Apa aja deh yang penting usaha dana atau yang paling mudah mengkontak para senior agar menjadi donor.


Nah, aku punya tips kalau mau proposal diacc dan dapat duitnya banyak, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa yah?. Cukup kamu sama aku aja yang tau. Oke?. Kalau mau dapat uang banyak kamu harus ngedeketin orang BEM dan DPM yang tukang acc biasanya sih ketuanya. Hati-hati, kamu harus lihat-lihat kalau ketuanya orang yang punya pendirian dan tegas akan susah atau malah tidak mungkin kamu untuk melobi. Tapi, kalau orangnya kurang punya pendirian dan plin-plan. Jangan sia-siakan kesempatan yang terpampang di depan mata. Jangan salah yah, meskipun dia  pemimpin mahasiswa di kampusmu ga menutup kemungkinan kalau dia orangnya plin-plan dan tidak punya pendirian. itu mah biasa.


Padahal yah, sejatinya lembaga mahasiswa dan mahasiswa di dalamnya tidak boleh mempraktikkan sistem-sistem KKN bobrok begini dikampus atau dimanapun juga di negei ini!. “Idealisme adalah kemenangan terakhir yang dimiliki oleh pemuda” begitu kata Tan Malaka. Pramoedya Ananta Toer lewat tokoh Jean Marais dalam bumi manusia juga berkata “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”

Sistem KKN yang bobrok itu adalah warisan yang sudah berpuluh tahun? Sampai kapan kau sebagai pemuda mau menganut sistem itu? Kasihan dengan generasimu selanjutnya. Pikirkanlah mereka.

“udah mandi aku bro, udah ganteng gini ayo berangkat ke kampus, rapat ospek dan ketemu gebetan”

“ sorry coy, tawaranku untuk ngajak dinner gebetan diacc barusan, kau aja yah yang ke kampus. Bilang aja aku ga bisa datang karena lagi sibuk. Ya...ya...ya...”

Kampretlah!