Jumat, 16 April 2021

KAMI HANYA PEKERJA YANG SAMA SEPERTI KALIAN. JANGANLAH TERLALU RINGAN TANGAN JIKA KAMI DIANGGAP. SALAH KAMI BEKERJA SESUAI SOP #SAVEPERAWATINDONESIA



Hari ini 16 April 2021, lagi! rekan seprofesiku seorang perawat dianiaya dengan cara ditendang dan dijambak rambutnya, karena keluarga pasien tidak terima tangan anaknya yang masih berdarah setelah infusnya dilepas. Orangtua manapun mungkin saja akan kesal. Apalagi istri penganiaya sempat mengunggah foto korban yang melepas infus dengan kalimat “Pelaku penganiayaan pada anak saya”,tetapi apakah dengan itu menjadi legitimasi untuk menganiaya perawat tersebut?

Tulisanku ini akan terdengar sangat subjektif, karena sebagai seorang yang berprofesi sebagai perawat tentu saja aku melibatkan perasaan emosional saat melihat video yang beredar. Di antara rekan-rekanku pun mengutuk dan bahkan terang-terangan menunjukkan solidaritasnya dengan mengupdate story wa mereka dengan gambar pita hitam bertagar #saveperawatindonesia #Stopkekerasantenagakesehatan. Momen ini sungguh sangat mengharukan.

Sayangnya momen mengharukan ini hanya terjadi sesekali. Di zaman media sosial seperti saat ini hanya jika kasusnya viral barulah banyak dari kita terketuk dan sadar. Jika kasusnya tidak viral lantas apa yang akan terjadi? Dan tentu saja seperti fenomena gunung es hanya sedikit kasus yang akhirnya dilaporkan sehingga akhirnya bisa didengar.

Kalau hanya serangan verbal tentu saja saya dan kawan-kawan perawat sudah kenyang. Bahkan menurut penelitiaan Sebanyak 73% perawat yang bekerja di IGD di Amerikamerasa bahwa kekerasan adalah bagian dari pekerjaan mereka sehinggamereka enggan untuk melaporkan kejadian tersebut (Gates, Gillespie & Succop, 2011 ; Clark, 2009). Memang sangat disayangkan tapi begitulah adanya, sampai-sampai merasa seolah perawat dan kekerasan adalah satu bagian yang tak terpisahkan.

Stigma bahwa perawat adalah asisten dokter, bahkan ada yang menyebut perawat sebagai pembantu dokter adalah salah satu penyebab kenapa profesi ini cukup rentan di mata para pasien dan keluarganya. Mungkin secara balam bawah sadar orang menganggap asisten adalah orang yang lebih rendah daripada si empunya. Secara profesional, begitu pula yang diajarkan di kelas-kelas keperawatanku dulu, Perawat adalah mitra Dokter! Tetapi karena ini stigma, tentu saja sangat sulit untuk mengubahnya apalagi media-media juga mengamini seperti salah satu media Tirto.id yang dalam artikelnya yang berjudul RisikoKekerasan dan Dilema Perawat. menulis “Perawat, sebagai asisten dokter seringkali mendapatkan kekerasan secara fisik maupun verbal. Bahkan untuk kesalahan yang bukan tanggung jawabnya.”

Tulisan tersebut memang ditujukan sebagai keberpihakan pada profesi perawat, tetapi pemilihan kata bisa menyakiti hati yang sebenarnya dibela. Jika media sebagai corong informasi saja masih menyebarkan stigma tersebut tentu saja tidak akan mudah untuk mengubahnya. Mungkin di sinilah salah satu peran penting yang harus dilakukan oleh organisasi profesi perawat, yaitu mengirim nota keberatan akan setiap tulisan “Perawat sebagai asisten dokter” dan sejenisnya yang bernada merendahkan.

Aku cukup beruntung bekerja di lingkungan di mana sebagian besar dokter-dokter baik dokter umum maupun dokter spesialis menganggap kami rekan bukan asisten atau pembantu. Walaupun masih ada juga oknum dokter yang merasa lebih superior sehingga merasa berhak untuk memerintah bahkan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan profesi yang kami lakoni dan bahkan tidak peduli dengan apa yang kami rasakan.

Tapi meskipun getir, aku cukup bangga melakoni profesi ini karena seringkali aku bisa merasa begitu dekat dengan pasien yang sedang ku rawat apalagi setelah merasa baikan mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus. Entah berapa lama lagi aku akan melakoni profesi ini, 5 tahun, 10 tahun lagi ataukah mungkin selamanya?

Sekalipun aku tidak melakoni profesi ini lagi di kemudian hari, aku berharap semoga profesi ini selalu menjadi lebih baik. Begitu pula profesi lain yang dianggap nomor dua


Rabu, 16 Desember 2020

Khayalan Tidur.

Tidur adalah kebutuhan, menurut penelitian dibutuhkan waktu 7-8 jam bagi orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan tidurnya agar tercapai tidur yang berkualitas. Dengan tidur yang berkualitas maka diharapkan tubuh juga pikiran akan segar dan lebih aktif ketika kita melakukan kegiatan sehari-hari.
dan tentu mudah saja menemukan artikel-artikel yang bertebaran di internet mengenai kebutuhan tidur yang diperlukan. 
Apakah benar demikian dalam kenyataannya? bagi sebagian orang mungkin saja iya,  tapi bagiku ini hal yang cukup bertentangan. (apakah ini penyebab aku tidak produktif?)

Sumber : https://www.bangkokpattayahospital.com/en/healthcare-services/neuroscience-center-en/neuroscience-health-articles-en/item/2396-sleep-disorders-en.html


Sebagai seorang pekerja shift-shiftan yang kadangkala bekerja ketika matahari masih bersinar terang dan kadang pula bekerja saat orang-orang lain sedang tertidur pulas tentu saja membangun ritme tidur yang konsisten amat sangat sulit. Misalnya ketika sedang bekerja shift malam, saat libur kebiasaan begadang akan terus terbawa bahkan seringkali besoknya shift pagi dan hingga jam 3 pagi ini baru aku beranjak ke kasurku. (sebagai informasi tambahan setelah shift malam 2x aku akan dapat libur 1 hari dan 1 hari off (tepat setelah selesai shift malam kedua)).Setelah di kasurpun perkara memejamkan mata menuju tertidur bukanlah hal yang mudah, seringkali khayalan-khayalan muncul mememuhi imaji tentang masa depan atau apa kesalahan masa lalu yang seharusnya tak dilakukan menggerayangi angan-angan sebelum jatuh terlelap.

Dan aku tidak pernah tahu setelah berapa lama mengarungi khayalan baru akhirnya aku benar-benar jatuh ke dunia tidur  untuk bangun jam 6 pagi dan bersiap untuk bekerja kembali. Artinya aku hanya punya waktu 2-3 jam untuk tidur, lalu kualitas tidur seperti apa yang kudapatkan? sebagai ganti atau istilah yang sering kita dengan sebagai 'balas dendam tidur', Selepas pulang bekerja shift pagi aku akan langsung bergegas tidur setelah sebelumnya menghisap sebatang dua batang rokok (satu kebiasaan burukku)

Berbicara mengenai khayalan sebelum tidur, tentu saja tidak sedikit dari kawan-kawan yang juga mengalami hal yang sama.
Apa solusi yang kalian terapkan? karena lelah atau niat untuk tidur lebih cepat pun belum tentu mampu membuatku terlelap dengan segera.




Selasa, 08 Desember 2020

Setiap orang pasti punya keluh kesahnya sendiri, apa saja, mulai dari hal-hal sepele bahkan hingga rumit dan kompleks.
Untuk kita sebagai lian dari si empu pemilik masalah merasakan hal tersebut tidaklah mudah apalagi jika kita memandang memakai sudut pandang sendiri lengkap dengan kacamata kuda.

kali ini aku mau bercerita tentang pengalaman beberapa tahun silam, saat seorang rekan kerja meninggal.
Aku, sebagai salah satu dari sekian orang yang pertama kali menemukan jasadnya terbujur kaku sampai hari ini masih terheran-heran kenapa ia menyalahgunakan wewenang yang ia punya untuk kenikmatan sendiri, lalu menyalahgunakan obat-obatan yang bisa dengan mudah ia akses sebagai bahan pelarian yang merenggut nyawanya sendiri.

Apa kiranya masalah yang ia hadapi? apakah begitu berat? mengingat dari beberapa sumber mengatakan tidak sekali dua dia melakukannya.

Rumor-rumor yang berkembang waktu itu mengatakan ia menyalahgunakan obat-obatan tersebut karena ditinggal istrinya,.

Pikirku dengan wajah tampan yang ia punya dan karir gemilang di usianya ia tak perlu melakukan hal tersebut. Sekali lagi, dalam pikirku  mudah saja baginya untuk mencari penggantinya, karena banyak rekan kerjaku yang begitu terpesona begitu bertemu dan bertatapan langsung dengan dia.

Entahlah, siapa yang tau betapa sulit dan rumit pengalaman yang dialami olehnya.
Memang kau sudah tenang di alam sana, tapi aku masih terngiang.
Isu-isu lain mengatakan banyak juga orang yang punya akses legal terhadap obat-obatan ini dan menggunakannya secara ilegal, motifnya? siapa yang tahu!.


Sejak sekolah dasar kita sudah diajarkan calistung (baca tulis hitung) hingga semakin kesini kita semakin terbiasa dengan hal tersebut, terutama jika kita masih menempuh pendidikan.

Seiring waktu berjalan, sebanding dengan usia yang kian menua calistung kita lakukan seperlunya saja, setidaknya itu buatku dan beberapa teman yang ku amati.

Kemudian muncul era baru, Teknologi Digital kita menyebutnya. Era ini ditandai dengan kemudahan mengakses apapun, di manapun, kapanpun dengan gratis.
Kegiatan calistung semakin mudah dipelajari dan banyak metode-metode yang mempermudah bisa kita adaptasi dari internet untuk memudahkan kegiatan tadi.

Memang kegiatan calistung menyangkut tiga hal ; baca, tulis, hitung. Tapi, saya akan berfokus pada bagian lis yaitu tulis. Terlihat dan terasa mudah, tetapi dalam praktiknya tidak semudah itu kisanak!
Perlu bacaan yang banyak agar dapat menjahit setiap ide-ide di pikiran menjadi enak dibaca pula mudah dipahami, kecuali anda cuma copy paste...hehehe

Masalah orang yang bukan berprofesi sebagai Penulis, atau terpaksa menulis karena tuntutan pekerjaan adalah memulai menulis apa yang ada dipikiran sendiri meskipun ide di kepala begitu melimpah ruah banyaknya. 

Tidak di situ saja, ketika menulispun kita masih akan kebingungan menata kata-kata menjadi kalimat yang enak dibaca sekaligus yang paling penting adalah bangaimana ide yang ingin kita sampaikan dapat diterima khalayak pada umumnya.

Lihatlah! Aku mulai menulis. Empat paragraph di atas begitu mudah dituliskan tapi apa ide utamanya?... dan sekarangpun aku kebingungan mengakhiri tulisan ini seperti apa dan bagaimana.
Atau ku tutup saja sekarang sebagai permulaan untuk tulisan-tulisan berikutnya.


Salam

8 Desember 2020

Sabtu, 23 November 2019

Sakti apanya jika tanah adat habis!

Di perantauanku seringkali orang yang mengetahui jika aku keturunan Dayak langsung bertanya "benar yah di sana masih banyak mistis-mistisnya?"
Kadang memang ku-iyakan kadang juga tak ku-respon.
Jika ku-iyakan langsung ku-sambung juga dengan kalimat"bukankah di Jawa sini juga masih banyak mistis-mistisnya kan?"
Pasukan Merah bersiap untuk mengikuti atraksi dan pawai pada Pekan Gawai Dayak di rumah Radakng, Senin (20/5). Foto: Rizkia

Aku haqul yakin, pertanyaan yang sering ku dapatkan itu asalnya dari orang-orang Dayak yang suka menjual kesukuannya baik lewat media sosial maupun melalui percakapan singkat sehari-hari.
Jualan suku itu tentu saja tidak jauh dari mistik, sakti, kebal dan cantik. Apalagi jika mistik tersebut dihubung-hubungkan dengan konflik horizontal yang pernah terjadi 2 dekade silam.
Semakin berkembangnya media sosial maka jualan tersebutpun semakin lancar. Bahkan seseorang yang dengan berani mendaku dirinya sebagai Pangkalima (entah siapa yg mengangkatnya) pernah membuat mistik itu tampak nyata dan terjadi dengan statusnya yang muncul di linimasaku.
Mistik itu, yang sering kalian dengar, tentu saja mampu membuat bulu kuduk merinding.
Tapi realitas yang terjadi pada generasi Dayak hari ini, tak seperti itu. Tidak indah-indah saja bung!
Banyak hal yang lebih mampu membuat kalian merinding.
Sungai-sungai yang dulu airnya layak dipakai Mandi dan mencuci sekarang tampak keruh lumpur dan membuat kulit gatal, ikan-ikan yang dulu kerap mampir di pinggir jamban* saat mencuci beras dan piring, entah kemana perginya.
jamban yang terdampar karena air surut

Hutan dan tanah adat orang Dayak yang menghasilkan banyak buah dan satwa hilang dengan perlahan tapi pasti, lalu berganti dengan tambang dan perkebunan kelapa sawit.

WWF memprediksikan hutan Kalimantan hanya tersisa 25% pada tahun 2020.
Lalu apa artinya bagi orang Dayak? Begini yah. Orang Dayak sebagai masyarakat adat. Sangat terikat dengan alam dan tanahnya.
Bagaimana bisa pesta panen padi jika sawah saja kita tak punya.
Bagaimana bisa setahun sekali menuba ikan di sungai kemudian bersama2 memanennya saat sedang mabuk jika di sungai ikannya sudah tak ada?
Sekarang, hari ini, kita memang masih mampu pamer dan pongah di media sosial sebagai orang Dayak dengan menjual kesukuan kita.
Besok, anak cucu kita. entahlah. Mereka mungkin saja masih punya cerita tentang nenek moyangnya suku Dayak.
Tapi hanya cerita dalam gambar dan buku bukan alam dan adatnya.

Seorang gadis dengan latar hutan dibakar


Dan setelah semuanya hilang. kita akhirnya paham kenapa beberapa waktu lalu seekor orang utan nekat melawan alat berat yang sedang bekerja menghancurkan hutan tempat hidupnya.

Tabik.

*Jamban: tempat mandi, mencuci juga kakus biasanya dibuat dari kayu yang terapung


Rumah Ngkuyang, Rumahku malang.


Rumah Ngkuyang
Rumah Ngkuyang

Kebanggaan dan Perasaan sedih datang bersamaan saat ku jejakkan kakiku di Rumah Panjang ini.
Rumah Panjang ini dinamakan Rumah Kuyang, dibangun pada tahun 1942 dengan 7 buah pintu. Yang mana hanya tersisa lima pintu yang masih dihuni. 1 pintu sudah hancur, lapuk dimakan usia. 1 pintu lainnya ditinggalkan setelah penghuninya membangun rumah di tempat lain.


Bagian rumah yang sudah rusak
.
Sepengetahuanku hanya tersisa 2 Rumah Panjang di Kabupaten Landak. 1 Rumah Kuyang ini, 1 lagi Rumah Panjang yang ada di desa Saham (belum kuketahui namanya).
.

Rumah Kuyang, benar-benar tampak memprihatinkan karena tidak terlihat usaha dari pemerintah setempat untuk melakukan pemugaran pada Rumah bersejarah ini.
Padahal jelas sekali hanya tersisa 2 Rumah Panjang yang ada di Landak. 2 Rumah Panjang ini selamat tentu saja karena penghuninya berani. Berani mempertahankannya dari tuduhan-tuduhan pemerintah waktu itu. Penghuni Rumah Panjang lainnya yang tidak berani, segera saja meninggalkan Rumah Panjangnya bahkan ada yang dengan sengaja membakarnya setelah para penghuninya tak lagi tinggal di situ.
.
Bersamaan dengan itu maka hilang sudah kebudayaan lisan yang biasa dituturkan nenek moyang di dalam rumah panjang. Bukan hanya itu, perlahan-lahan identitas kedayakannya pun hilang.
Kita begitu pongah saat Suku Dayak disebut sakti, cantik, putih dsb.
Tapi semakin hari kita kehilangan media komunikasi dengan leluhur.
.
Sekarang, di Kabupaten Landak, hanya 2 Rumah Panjang yang tersisa itupun agak kuang terawat. 
Begitu tegakah kita sebagai anak Dayak membiarkannya rusak perlahan dimakan usia.

.
Nb: Rumah Kuyang ini berada di Desa Tebedak, sekitar 6km dari Ngabang, kabupaten Landak, Kalimantan Barat

Bekerja keras bagai kuda, saat sakit kesono aja


Siang itu memang tak seperti biasanya. Ketika gawaiku yang sedari tadi berisik tangtingtong kubuka. Whatsapp group kantor mengabarkan; seorang rekan kerja kami kecelakaan. Ia terjungkal dari sepeda motor dan setelah di-foto rontgen hasilnya jelas ia mengalami patah lengan kiri atas dan harus segera di-operasi.

Kami adalah rekan kerja di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, dan RS ini tidak bekerja sama dengan BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan.
Sebagai perawat, tentu saja, kami paham betul bahwa tindakan operasi tersebut harus segera dilakukan agar proses pemulihan tulang berjalan semestinya dan bentuk tulang yang patah, paling tidak hampir menyamai posisi awal sebelum patah.

Untung memang tak dapat diraih, oleh HRD, rekanku dihadapkan pada pilihan ; jika ingin tetap operasi di RS ini, maka harus menanggung 10 % dari total biaya, sesuai dengan benefit karyawan jika berobat. Atau, pembiayaan-nya ditanggung penuh oleh BPJS ketenagakerjaan tetapi harus dirujuk ke RS lain yang bekerja sama dengan BPJS ketenagakerjaasn .
Rekanku, dengan berat hati mengambil pilihan yang kedua. Ia kemudian dirujuk dan besok akan pulang setelah menjalani perawatan selama 4 hari.

Apakah ada yang salah dengan yang disampaikan HRD? toh ia tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk tindakan operasinya.
Hemm, begini. Bagi orang yang bekerja atau setidaknya pernah bekerja di RS sebagai tenaga kesehatan, dirawat oleh rekan sendiri akan membuat kita merasa lebih nyaman daripada dirawat oleh orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Dan, rasa nyaman, rasa percaya, mampu membuat proses penyembuhan (psikologis) menjadi lebih cepat. Kenapa, karena kita dikelilingi oleh rekan kerja sehari-hari yang sudah kira kenal.

Bukankah sudah seharusnya perusahaan memberikan jaminan kesehatan 100% kepada karyawannya. Para karyawan ini sudah bekerja sepenuh hati dan tak jarang dimaki karena dianggap lalai, lambat dan malas oleh pasien dan keluarganya yang berobat. Sementara, ratio antara jumlah petugas dengan pasien seringkali timpang, sehingga petugas seperti kami mau tak mau harus kerja ekstra agar semua pasien bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal.

Kami sudah merawat sebaik-baiknya semua pasien/klien/costumer yang datang berobat ke RS ini, tetapi ketika kami sakit yang memerlukan tindakan, kenapa kami harus di-oper ke RS lain.
Sudah 2x ini terjadi, apakah besok harus ada lagi?

Dan betul saja ternyata ada lagi!!!