Hari ini 16 April 2021, lagi! rekan seprofesiku seorang perawat dianiaya dengan cara ditendang dan dijambak rambutnya, karena keluarga pasien tidak terima tangan anaknya yang masih berdarah setelah infusnya dilepas. Orangtua manapun mungkin saja akan kesal. Apalagi istri penganiaya sempat mengunggah foto korban yang melepas infus dengan kalimat “Pelaku penganiayaan pada anak saya”,tetapi apakah dengan itu menjadi legitimasi untuk menganiaya perawat tersebut?
Tulisanku ini akan terdengar sangat subjektif, karena sebagai seorang yang berprofesi sebagai perawat tentu saja aku melibatkan perasaan emosional saat melihat video yang beredar. Di antara rekan-rekanku pun mengutuk dan bahkan terang-terangan menunjukkan solidaritasnya dengan mengupdate story wa mereka dengan gambar pita hitam bertagar #saveperawatindonesia #Stopkekerasantenagakesehatan. Momen ini sungguh sangat mengharukan.
Sayangnya momen mengharukan ini hanya terjadi sesekali. Di zaman media sosial seperti saat ini hanya jika kasusnya viral barulah banyak dari kita terketuk dan sadar. Jika kasusnya tidak viral lantas apa yang akan terjadi? Dan tentu saja seperti fenomena gunung es hanya sedikit kasus yang akhirnya dilaporkan sehingga akhirnya bisa didengar.Kalau hanya serangan verbal tentu saja saya dan kawan-kawan perawat sudah kenyang. Bahkan menurut penelitiaan Sebanyak 73% perawat yang bekerja di IGD di Amerikamerasa bahwa kekerasan adalah bagian dari pekerjaan mereka sehinggamereka enggan untuk melaporkan kejadian tersebut (Gates, Gillespie & Succop, 2011 ; Clark, 2009). Memang sangat disayangkan tapi begitulah adanya, sampai-sampai merasa seolah perawat dan kekerasan adalah satu bagian yang tak terpisahkan.
Stigma bahwa perawat adalah asisten dokter, bahkan ada yang menyebut perawat sebagai pembantu dokter adalah salah satu penyebab kenapa profesi ini cukup rentan di mata para pasien dan keluarganya. Mungkin secara balam bawah sadar orang menganggap asisten adalah orang yang lebih rendah daripada si empunya. Secara profesional, begitu pula yang diajarkan di kelas-kelas keperawatanku dulu, Perawat adalah mitra Dokter! Tetapi karena ini stigma, tentu saja sangat sulit untuk mengubahnya apalagi media-media juga mengamini seperti salah satu media Tirto.id yang dalam artikelnya yang berjudul RisikoKekerasan dan Dilema Perawat. menulis “Perawat, sebagai asisten dokter seringkali mendapatkan kekerasan secara fisik maupun verbal. Bahkan untuk kesalahan yang bukan tanggung jawabnya.”
Tulisan tersebut memang ditujukan sebagai keberpihakan pada profesi perawat, tetapi pemilihan kata bisa menyakiti hati yang sebenarnya dibela. Jika media sebagai corong informasi saja masih menyebarkan stigma tersebut tentu saja tidak akan mudah untuk mengubahnya. Mungkin di sinilah salah satu peran penting yang harus dilakukan oleh organisasi profesi perawat, yaitu mengirim nota keberatan akan setiap tulisan “Perawat sebagai asisten dokter” dan sejenisnya yang bernada merendahkan.
Aku cukup beruntung bekerja di lingkungan di mana sebagian besar dokter-dokter baik dokter umum maupun dokter spesialis menganggap kami rekan bukan asisten atau pembantu. Walaupun masih ada juga oknum dokter yang merasa lebih superior sehingga merasa berhak untuk memerintah bahkan untuk hal-hal yang tidak berhubungan dengan profesi yang kami lakoni dan bahkan tidak peduli dengan apa yang kami rasakan.
Tapi meskipun getir, aku cukup bangga melakoni profesi ini karena seringkali aku bisa merasa begitu dekat dengan pasien yang sedang ku rawat apalagi setelah merasa baikan mereka mengucapkan terima kasih dengan tulus. Entah berapa lama lagi aku akan melakoni profesi ini, 5 tahun, 10 tahun lagi ataukah mungkin selamanya?
Sekalipun aku tidak melakoni profesi ini lagi di kemudian hari, aku berharap semoga profesi ini selalu menjadi lebih baik. Begitu pula profesi lain yang dianggap nomor dua


